Sunday, October 15, 2017

Happiness

I've learned since a long time ago.
That you can gain your happiness from making others happy.
That happiness is real when shared.
That when everybody is happy, so will you.
Et cetera.

What I don't know is.
There are some kind of happiness.
That sometimes you gotta fake it till you make it.

Friday, October 13, 2017

Tertinggal

Liburan musim panas kemarin, gue menyempatkan diri untuk kembali ke kampung halaman gue alias tanah airku Indonesia raya untuk pertama dan terakhir kalinya hahaha. Well iya dong terakhir kali, soalnya next time gue balik ke Indonesia udah bukan buat liburan lagi, tapi buat back for good ea.

Dulu pas pertama kali ke Jepang, gue naik maskapai ANA karena gue sendirian dan gak mau pusing. Pertama gue butuh bagasinya banyak dan ANA ngasih slot 23kg x 2 alias 46 kg men hahaha. Kedua karena direct flight langsung Jakarta-Tokyo, jadi ditinggal bobo doang juga langsung sampe.

Nah, berbeda dengan saat pertama kali ke Jepang, untuk pulang liburan kemarin gue memilih maskapai yang harganya lebih miring. Harap maklum yah mengingat gue bayarnya pake uang jajan gue sendiri. Dan akhirnya pilihan gue jatuh pada Malaysia Airlines. Walaupun harus transit dulu di Kuala Lumpur, at least bagasinya not bad lah, gue dapet 30 kg. Makanannya juga bisa dijamin halal insyaAllah jadi gausah pusing-pusing kudu minta yang vegetarian. Dan kata temen-temen gue yang udah pernah naik pun bentuk dalemnya mirip-mirip Garuda jadi itungannya oke dengan harga yang cuma separohnya Garuda. Yup, harganya gue dapet sekitar 44,000 yen dan gue beli 2 bulan sebelum hari H.

Btw gue pulang bertiga sama dua orang junior gue. Mari kita panggil mereka dengan sebutan si Bogor dan si Ciamis sesuai dengan tempat tinggal mereka hahaha.

Perjalanan berjalan dengan sungguh lancar. Ya, walaupun gue sempet norak masih kebawa kebiasaan suka ngomongin orang dengan suara kenceng karena biasanya di Jepang kalo ngomongin orang pake bahasa Indonesia kan orangnya gak tau ya. Kebiasaan itu gue bawa lah sampai ketika transit di Kuala Lumpur sampe ditegur sama si Bogor, "Kak orangnya paham kak ati-ati" wk. Btw gue transit di Kuala Lumpur tuh bener-bener cuma sekejap mata doang. Oke sebenarnya satu jam sih, tapi satu jam buat transit tuh bener-bener yang cuma turun pesawat, nyari-nyari gate, terus langsung antri buat masuk gatenya. Gak sempet ngapa-ngapain. Eh sempet ke tandas dulu sih. Ya silahkan cari tahu apa itu tandas wkwkwk.

Total perjalanan gue adalah sekitar 9 jam. 6 jam dari Tokyo ke Kuala Lumpur, 1 jam transit, dan 2 jam perjalanan dari Kuala Lumpur ke Jakarta. Semua begitu lancar sampai kami tiba di tempat menunggu bagasi.

Bagasi?
Yes you might guess.
Bagasi gue, si Bogor, dan si Ciamis nggak ada dong.

Kami bertiga bener-bener mantengin itu baggage conveyor sampe bener-bener abis dan kami tidak menemukan koper kami yang padahal gedenya sungguh lumayan. Well nggak cuma kami bertiga tapi ada beberapa manusia lain juga yang tampak menanti sesuatu yang tak kunjung tiba.

Sampai tiiba-tiba muncul embak-embak pegawai bandara yang nanya,
"Malaysia Airlines ya? Bagasinya nggak ada? Aduuuuh kebiasaan deh."

Jegeeeer.

Gue masih belum menyadari apa yang terjadi sampai mbaknya beneran bilang, "Bagasi kalian kayaknya masih di Kuala Lumpur deh belum kebawa kesini, paling cepet ya kalo nungguin pesawat Malaysia Airlines selanjutnya tapi kita juga nggak bisa ngasih kepastian."

Jegeeeer #2

Btw itu mbaknya ngomongnya sungguh informal karena ngeliat gue dan si Bogor sama si Ciamis emang bentuknya kayak mahasiswa menyedihkan kali ya wkwkwk. Pas dia ngomong sama bapak-bapak atau ibu-ibu lain bahasanya jauh lebih formal. Oke ini fyi aja biar nggak pada wondering kenapa itu mbak-mbak ngomongnya nyablak bingit.

Anyway, jadi yang bernasib seperti gue ada juga sekeluarga Indonesia yang terbang dari Osaka dan ada juga mbak-mbak Jepang yang kayak panik banget. Ya jelas dia panik lah ya. Kopernya ilang di negara orang gitu. Gue, si Bogor, dan si Ciamis mah masih bisa bersyukur yah. Walaupun koper nggak ada mah kita kan tinggal pulang, lagian di rumah juga masih ada baju, gitu lah kasarnya. Lah kalo si mbak-mbak Jepang ini kan pasti segalanya ada di kopernya gitu loh, misalnya besok dia ada acara penting terus barang yang diperlukan ada di kopernya gimana coba?

Pada akhirnya gue, si Bogor, dan si Ciamis disuruh ngisi dokumen terkait ketiadaan bagasi dan disuruh nulis alamat rumah karena katanya kopernya bakal dianter ke rumah masing-masing kalo kopernya udah sampe Jakarta. Si Bogor awalnya bersikeras buat nungguin flight berikutnya tapi para pegawai bandaranya nggak terlalu setuju karena mereka masih nggak bisa menjamin kapan itu koper bakal sampe di Jakarta.

Kisah ini punya happy ending buat gue dan si Bogor anyway. Koper gue beneran dianterin ke rumah sehari setelahnya. Si Bogor malah enak soalnya dia dari Bandara ke rumah kudu naik Damri karena nggak dijemput keluarga, terus bawaan dia jadi tinggal sedikit hahaha. Well si Bogor juga sama kayak gue, kopernya langsung dianterin ke rumahnya keesokan harinya. Yang jadi masalah adalah si Ciamis. Mungkin gara-gara rumahnya tidak terletak di bilangan Jabodetabek kali ya, jadi dia nerima kopernya super lamaaaaa bingit. Gue flight ke Jakarta kan tanggal 23 Agustus, koper dia baru sampe di rumahnya tuh tanggal 4 September coba bayangkeun berapa lama tuh. Untung si Ciamis cukup lama di Indonesia. If that happens to me, gue balik lagi ke Jepang seminggu setelah 4 September itu men useless juga itu koper wkwwkwkw. Entahlah itu oleh-oleh yang ada di kopernya si Ciamis masih berfaedah atau engga wkwk gue nggak nanya lebih lanjut agar tidak menimbulkan duka yang lebih dalam.

Gara-gara kejadian itu, gue jadi agak kapok milih penerbangan yang ada transitnya. Walaupun pas flight balik ke Tokyo alhamdulillah koper gue aman-aman aja sih (transit di KL juga sejaman). Yaa mungkin next time kalo milih yang ada transitnya, pilih yang transitnya agak lamaan dan jangan yang terlalu kilat kali ya? Sama doa yang kenceng. Entahlah.

Wednesday, October 4, 2017

Last

Oh.
It's autumn already!
But why are you still here, Summer?
Don't worry.
I'll remember all the good memories, but you should just go.

Because.
It's autumn already!
And soon will be winter.
And spring.
And there will be no summer anymore.

Or.
It'll be summer forever?

Friday, September 22, 2017

Mendaki Gunung Fuji

Summer ini gue berhasil mencentang satu dari bucket list yang harus gue lakukan selama gue berada di Jepang raya ini. Tidak lain dan tidak bukan adalah: Mendaki Gunung Fuji. Gunung yang memiliki ketinggian 3776 mdpl ini merupakan gunung tertinggi di Jepang, dan konon katanya ketinggiannya sudah mencapai 45% ketinggian Gunung Everest. E&.

Anyway sebelumnya, terima kasih sebesar-besarnya gue haturkan kepada peserta rombongan absurd yang sudah merealisasikan wacana menjadi kenyataan, yang terdiri dari:

Kak Widhi sebagai pemimpin rombongan yang sungguh berdedikasi,
Kak Era sebagai pendamping pemimpin rombongan,
Kak Ulya sebagai nenek kita semua,
Kak Anggi sebagai vlogger gaul,
Kak Razi sebagai penjaga rombongan,
Kak Dhila sebagai peserta hiking terbaik yang super tidak neko-neko,
Ghiffari sebagai penjaga wanita-wanita lemah,
Caesar sebagai timekeeper plus penjaga nenek,
Kak Ila sebagai artis ibukota, dan
Kak Jihad sebagai tukang ngeramein suasana dan penjaga artis ibukota.

Silahkan ditebak sendiri siapa yang mana dari foto di bawah ini.

Peserta Pendakian Fuji
Kembali ke topik pendakian.
Trek yang rombongan gue naiki adalah Yoshida Trail, yang berawal dari 5th station dan berujung di puncak (10th station). Konon, trek ini katanya merupakan trek yang easy for beginner. Walaupun easy, tetep aja peralatan yang gue dan teman-teman siapkan merupakan peralatan naik gunung yang ciyus. Well, ini dia list peralatan yang gue bawa (selain baju yang menempel di badan, dimana gue lapis juga pake airism dan heattech nya Uniqlo) :

- Jaket (agak) waterproof
- Celana training waterproof
- Jas hujan
- Carrier daily pack
- Sepatu gunung
- Headlamp
- Senter
- Tongkat alias Trekking Pole (sebelah doang, yang sebelah lagi dipake sama kak Ulya)
- Makanan: cokelat banyak dan onigiri sebiji yang dikasih Kak Dhila
- Minuman: Air mineral dan pocari sweat
- Handuk kecil serta tisu basah dan kering
- SUNBLOCK
- Oksigen (tapi dibawain sama kak Anggi, lalu drama)

Cukup ciyus, bukan? Dan menurut gue hampir semuanya beneran kepake sih. Eh senter nggak kepake deng, karena gue males ngambilnya dan udah pake headlamp. Headlamp ini super ngebantu banget karena ngedakinya malem-malem. Kalo tongkat, dia sangat membantu di beberapa part, tapi juga sangat menyusahkan di beberapa part (terutama yang kudu manjat batu). Terus jas hujan juga gue nggak kepake hahaha soalnya gue udah terlanjur males ngambil, dan jaket gue udah cukup waterproof berhubung hujannya juga alhamdulillah nggak terlalu deras. Well kak Ulya make jas hujannya sih, tapi somehow kita yang ngeliat kadang ngeri takut jas hujannya keinjek pas adegan manjat-manjat jalan berbatu.

Sebelumnya gue bakal cerita awal perencanaan pendakian gunung Fuji ini. Mengingat sebenarnya ada beberapa anggota yang gue juga baru kenal, jadi kami memutuskan untuk melakukan malam keakraban hahaha. Lebay ya? Tapi ini bertujuan agar ketika naik Fuji sudah tidak ada hard feeling antar sesama peserta wkwkwk karena konon katanya kalo udah di gunung, sifat asli manusia yang biasanya ditutupi pride, bisa muncul semua hahaha. Well, di malam keakraban tersebut pun kami mulai merencanakan segalanya, mulai dari list perlengkapan sampai tanggal. Perencanaan awal untuk pendakian kami jatuh di tanggal 16-17 Agustus. Jadi mulai mendaki pada tanggal 16 malam agar tiba di atas (ketika sunrise) di tanggal 17 Agustus, supaya bisa mengibarkan bendera merah putih di atas Gunung Fuji tepat di hari kemerdekaan Indonesia #tsah. Namun kendalanya adalah, kita hanya bisa melihat ramalan cuaca di Gunung Fuji selama seminggu ke depan saja. Jadi sebenarnya perencanaan dari jauh-jauh hari itu hanya rencana kasar saja dan tetap akan ditentukan sekitar H-seminggu.

Walau begitu, alam seperti berpihak pada kami. Menjelang tanggal 16, ramalan cuaca yang terpampang di website ini adalah sebagai berikut:

Weather Forecast
Benar-benar hanya cerah di rentang waktu di saat rombongan gue akan naik (16 malem) dan turun (17 pagi). Alhamdulillah ya, mungkin doa anak soleh dan solehah.

Singkat cerita, hari itu pun tiba. Berkumpul di Shinjuku, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke kaki gunung Fuji menggunakan bus seharga 5400 yen (pp). Technically bukan kakinya banget sih karena kami akan memulai pendakian dari stasiun ke-5 alias 5th station. Jadi, si gunung Fuji ini terdiri dari beberapa stasiun gitu dimana puncaknya adalah stasiun ke-10. Seperti yang sudah gue mention, pendakian dimulai dari 5th station jadi sebenarnya mulainya dari dari tengah-tengah sih nggak dari kaki banget wkwkwk. But still. Gue yang udah anxious dari jaman kapan tau akhirnya hanya bisa pasrah dan berdoa.

Kami tiba di 5th station sekitar pukul 17.00. Pendakian akan dimulai pada pukul 19.00 atau sekitar setelah Maghrib gitu, jadi kami memiliki sekitar dua jam untuk mengisi perut dan melengkapi amunisi (re; gue nambahin perbekalan cokelat gue).

And here we are.
Bismillah

Speaking of pendakian, menurut gue pribadi, tipe tanjakan di Fuji itu ada tiga:
1. terjal nauzubillah
2. nanjak landai tapi panjaaaaaaang banget ngga abis-abis, dan
3. tangga.

Tiga tipe itu gue sebutin sesuai urutan tipe tanjakan termending sampe yg least mending. Maaf pemilihan kata gue gak jelas hahaha. Jadi yang terjal nauzubillah itu adalah tipe tanjakan dimana gue udah gak bisa pake tongkat lagi karena kadang bahkan kudu manjatin bebatuan. But I like this anyway hahaha soalnya nggak tau kenapa, nafas gue di sini nggak cepet. Mungkin karena sering berhenti buat mikir next step nya harus gimana jadi di situlah saatnya gue mengambil banyak nafas (apasih) hahahah. Meanwhile yang kedua, which is tanjakan landai tapi panjang banget gak abis-abis itu bener-bener ngabisin nafas gue dah sampe engep gue soalnya nggak berhenti-berhenti. Mana gue tipe yang kalo lagi bengong pasti automatically nyanyi, jadi makin abis lah nafas gue wakakak. Yang terakhir, tangga. Ini sih emang gue gak demen aja sekian dan terima kasih hahaha.

Anyway gue dan rombongan pacenya supeeer lambat hahaha. Dari yang tadinya mau pake pola 50+10 alias 50 menit jalan 10 menit istirahat, akhirnya berubah jadi 30+10, tapi  lama-lama kayaknya tiap 20 menit sekali berhenti dah hahaha soalnya ada aja yang minta istrihat. Dan, gue bisa jumawa sedikit nih, gue kagak pernah minta istirahat dan bahkan nggak pernah minta oksigen di saat para wanita lain sudah mulai meminta oksigen. Bahkan ada yang nanya, kak Bel udah pernah naik gunung ya? Kok lancar-lancar aja. HAHA. Ya walaupun kadang-kadang juga ada masanya pas istirahat gue cuma terdiam kedinginan tapi ya udah gitu aja.

Gue malah lebih concern kepada seorang kakak gue yang bernama kakak Ulya, yang biasanya ceria bahagia tapi kali ini hanya terdiam terpaku dan berada dalam energy-saving mode selama perjalanan sehingga membuat kami serombongan sesungguhnya sangat khawatir. Kak Widhi yang jalannya terdepan aja berkali-kali nanya, Ulya gimana? Tapi alhamdulillah kak Ulya punya pengawal setia bernama Caesar sehingga kami sedikit lega hahaha.

Kembali ke pendakian, salah satu yang bikin gue heran dari pendakian Gunung Fuji ini adalah: stasiun 8-nya banyak banget hahaha. Jadi stasiun itu kan udah gue anggep sebagai semacam check point gitu, kan. Tapi yang terjadi adalah setelah usai menempuh stasiun 8, ternyata stasiun berikutnya namanya tetep stasiun 8. Kan kezel. Dan bahkan setelah stasiun 8 tersebut, ada lagi yang namanya stasiun 8 original. Hadeeh PHP kayak lelaki hahaha.

Dan pada akhirnya ternyata gue mendapat karma di stasiun 9. Gue yang dari tadi awalnya super sehat wal afiat tidak butuh oksigen, tiba-tiba di ujung stasiun 9 mendapatkan sakit kepala luar biasa hahaha. Oksigen gue ada di kak Anggi dan kak Anggi sudah jauh entah dimana. Thanks to Ghiffari yang masih setia nungguin gue yang jalannya sudah tertatih-tatih karena sudah ganti-ganti mode fokus-nggak fokus. Pelajaran yang bisa kita dapat: jangan sombong di gunung.

Ngejepret sunrise tapi sendirinya masih teler
Setelah tiba di puncak, walaupun sunrise menanti dengan sungguh luar biasa indahnya, gue masih belum bisa fokus. Keliyengan. Pandangan mata tidak jernih. Ini gejala apa ya hahaha. Tapi tiba-tiba kak Era datang dan dengan bahagianya bilang,
"Aku tadi muntah dong"
Gara-gara itu, gue langsung, "Kakak minta plastik...."
Dan ikut muntah hahahahahah.
Tapi abis itu gue jadi ikutan bahagia kayak kak Era.

Berbeda dengan nenek kita semua: kak Ulya.
Udah dikasih plastik, muntahnya nggak pol. Dikasih minuman anget, nggak diminum. Diajak ngomong, dijawabnya cuma "hm" atau gerakan kepala yang sangat lemah. Tatapan matanya pun sungguh sedih. Untung Caesar membawakan kacamata hitam sehingga bentuk kak Ulya tidak buruk-buruk amat. Bahkan sampai akhir keberadaan kami di Puncak yang seharusnya diselebrasi dengan bahagia, kak Ulya masih in a gloomy mood hahahah semangat kakk!

Oh iya anyway akhirnya kami beneran mengibarkan bendera merah putih dan bernyanyi Indonesia Raya di Puncak Gunung Fuji pada tanggal 17 Agustus yeaaay so norak but happy!

Dirgahayu RI
Sekitar pukul 7 akhirnya kami memutuskan untuk turun gunung.
Well kalo boleh jujur, turun gunung inilah yang membuat telunjuk kaki gue sakit karena menahan beban hidup ini hahahah. Medannya adalah turunan landai berpasir, yang seperti tiada berujung :'' hahahah karena panjaaaaaang banget sampe gue bosen ini kapan selesainya. Pada perjalanan turun ini gue sudah tidak lagi memakai tongkat karena tongkat gue diakuisisi oleh kak Ulya, karena beliau butuh tempat bertopang (apasih). Dan kami semua masih meletakkan concern terbesar kami pada kak Ulya karena energy-saving mode nya belum dilepas. Beliau masih diam saja dan tidak ceria seperti biasanya. Namun penjaga kak Ulya selama turun berubah karena Caesar sepertinya lelah, sehingga Ghiffari lah yang menjaga kak Ulya sampai akhir. Otsukare, Ghif (lah). Hahaha kenapa jadi ngomongin kak Ulya. By the way, Kak Ulya, kalau kakak baca tulisan ini karena nemu link blog ini di twitter aku, diinget ya kak kalau kita semua sayang sama kakak dan tidak akan meninggalkan kakak. Jadi, kakak jangan melupakan kenangan bersama kita ya, walaupun sebentar lagi pulang ke Indonesia. E&.

Daaaaaaaan pada akhirnya, setelah perjalanan panjang menuruni gunung selama kurang lebih 5 jam, selesailah sudah perjalanan gue dan teman-teman gue menaiki Gunung Fuji. Kalau kata kak Widhi, menaiki gunung Fuji itu membuat kita yakin bahwa sebesar apapun halangan dan rintangan yang ada di hidup kita, jika kita jalani dengan tabah maka akan berlalu juga. Semoga hal tersebut teraplikasi pada thesis gue, dan berbagai tantangan dalam hidup gue deh yah. Aamiin.

Anyway full footage tentang pendakian gue dan teman-teman ada di sini:

https://www.youtube.com/watch?v=dBJr8OqQDHU&t=208s

Tuesday, August 15, 2017

Memiliki Keturunan

Tenang saja, sampai tulisan ini dipublish, status gue masih high quality single yang belum pernah pacaran sekalipun.

But anyway.
Kalau gue menilik media sosial gue, sudah sangat banyak teman-teman seumuran gue yang menikah. Fenomena ini udah dari jaman dulu sih jadi gue mulai used to it secara gue tahun depan udah seperempat abad. Tapi yang bikin gue kadang berefleksi lebih lama adalah: mereka yang sudah menikah itu sekarang sudah punya anak. Iya, mereka sekarang memiliki amanah yang luar biasa besar karena diberikan titipan oleh Allah SWT untuk mengurus, mendidik, dan bertanggungjawab terhadap seorang anak. Gila sih menurut gue itu adalah tanggungjawab terbesar yang bisa dipegang seorang manusia. Punya anak.

Sampai sekarang aja gue selalu berfikir semua sikap dan tindakan gue adalah hasil dari didikan (baik sengaja maupun tidak sengaja) dari orangtua gue. Contoh: cara ngomong gue yang blak-blakan adalah gue yang meniru emak gue, kemampuan mendengarkan curhatan orang adalah turunan Papa, sikap gue yang suka bilang 'terserah' adalah hasil dari gue yang selalu disuruh mengalah pas masih kecil (dan gue somehow inget banget), etc lah kayaknya hampir semua aspek dalam hidup ini adalah bentukan dari gimana gue dididik dan diperlakukan di rumah.

Belum lagi ramenya berbagai workshop parenting yang ada saat ini. Bener-bener nunjukin kalo parenting itu adalah hal yang tidak bisa dianggap sepele, kan. Dan ditambah adanya kasus temen-temen gue yang 'bandel' dan ternyata alesannya adalah 'pemberontakan' terhadap orangtuanya. Alhamdulillah kalo bandelnya nggak ngerugiin orang lain, lah kalo bandelnya sampe ngeinfluence orang lain kayak youtuber yang sekarang lagi terkenal? Yang salah siapa? Somehow pasti ada beberapa pihak yang ngeblame orangtuanya kan.

Lebih jauh lagi yang bikin gue makin kepikiran adalah ketika gue menonton film berjudul Captain Fantastic. Di sini diceritakan gimana si captain ini punya cara yang unik buat ngedidik anak-anaknya, yang nggak disekolahin di sekolah formal. Keren sih. Tapi silahkan ditonton aja sendiri hahaha. Abis nonton ini gue berdebat abis-abisan sama temen pulang jalan kaki gue sepanjang jalan dari kampus sampai rumah, tentang homeschooling. Temen gue ngedukung homeschooling gara-gara dia liat di film itu kalo si anak-anaknya jadi berhasil, dan kita (orangtua) jadi punya kontrol penuh dalam pendidikan anak. Tapi gue sangat anti homeschooling karena menurut gue gimana bersosialisasi itu penting banget. Well gue pribadi malah ngerasa jadi lebih bisa berkomunikasi ketika gue ditaroh di tempat yang lebih heterogen (kampus), daripada ketika gue ditaroh di lingkungan yang super homogen (sekolah gue). My point is, anak gue nanti harus dikasih liat dunia luar juga dan gimana mereka deal with that, jangan di rumah doang.

Nah kan.
Gara-gara semua itu, gue sekarang jadi lebih concern ke gimana gue mendidik anak nantinya daripada siapa jodoh gue. Pernah gue kelepasan ngomong "nanti anak gue masukin ke sekolah mana ya" eeeh malah dibilang, "yaelahh pasangan aja belom ada" wkwkwk ya iya sih bener, tapi kan ga ada salahnya toh mikirin masa depan anak gue. Udah gitu gue cewek pula. Without no intention to be sexist, tapi gue selalu mikir kalau ibu adalah seorang yang membuat rumah menjadi rumah, dan ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Plus, tadi gue ketriggered juga sama omongan ibuk-ibuk yang gue liat di medsos gue: "orang jaman sekarang mah punya anak gara-gara lucunya doang" lol kadang gue juga sempet mikir gitu juga kalo lagi mode suudzon. Tapi kalo kata temen gue yang bijak dan udah punya anak, "punya anak berarti udah siap sama segala resikonya, kalo mau lucunya doang mah mending aku beli boneka aja."

Well.
Ya udah pada akhirnya mari kita doain aja itu temen-temen gue yang udah pada punya anak semoga bukan punya anak karena lucunya aja atau karena lagi trend (astaghfirullah).

Terus lu sendiri gimana, Bel?
Ya, sambil tetep mikirin anak gue ntar mau gue apain, gue mah tetep kudu nyelesein apa yang ada di depan gue dulu. Pun masih banyak tanggungjawab yang kudu gue handle di rumah nantinya sepulang gue dari Jepang raya ini, daripada harus nambah tanggungjawab lain. Toh masa depan nggak ada yang tau juga, kan?

Saturday, August 12, 2017

Kontemplasi

Jadi ceritanya gue lagi kesel banget sama seseorang temen gue yang memperlakukan gue sewenang-wenang seolah-olah gue tidak punya hati.

Edan bahasanya lebay pisan hahaha.

Well, yang mau gue tekankan bukanlah tentang pada siapa gue kesal dan apa yang dia lakukan sih. Tapi lebih kepada ketika gue akhirnya berkontemplasi dengan apa yang menyebabkan dia bersikap begitu kepada gue.

Turned out gue malah pada akhirnya menyalahkan diri gue sendiri.
Ya emang salah gue sendiri, kenapa dari awal harus mure, suka ngomong nyablak sekate-kate, dan terlihat nggak ambil pusing, sehingga orang-orang mengira bahwa gue adalah tipe yang bisa dibecandain tanpa diambil hati. Ya bener sih somehow dari dulu gue emang target bercandaan orang karena gue bisa ngehandle itu semua dengan selow. But somehow kalo udah keterlaluan kan jiwa wanita gue bisa keluar dan jadi gampang bete ya hahaha apasih inti dari tulisan ini.

Ya intinya adalah pada akhirnya, ketika lo kesel sama orang lain (apalagi temen sendiri), coba lo kontemplasi dan pikirin itu tuh salah dia apa salah lo. Kalo udah sadar kalo itu tuh salah lo sendiri, well you can just change your point of view and take it easy. Kedengerannya gue nyepelein ya? Padahal di sini gue juga struggling gimana biar gue bisa ngehandle semua ini dengan selow, walau jatohnya kadang jadi suka nyalah-nyalahin diri sendiri sih (and this, also, is not a good thing).

Ya udah jadi sekarang, mari belajar melihat segala sesuatunya dari sisi yang lebih positif agar bahagia.

source: here

Friday, July 14, 2017

The Law of Attraction

Jadi gue nemu tulisan gue jaman SMA yang akan gue up lagi di sini karena, lagi-lagi, isinya tentang resensi buku hahaha. Kali ini bukunya merupakan salah satu karya dari Dan Brown, The Lost Symbol. Btw harap maklum kalau gue nulisnya pakai kata ganti saya, karena tulisan gue dulu itu ditujukan buat tugas sekolah hahaha. Enjoy!

source: google
Menghabiskan waktu sepekan karena disela oleh study tour, menurut saya buku Dan Brown yang kali ini agak-agak lebih sepi dibanding buku-buku sebelumnya. Walaupun begitu, The Lost Symbol tetap recommended kok. Secara yang nulis adalah Dan Brown.

Well, sejujurnya tulisan ini bukan untuk membahas buku Dan Brown mengingat resensi dari buku tersebut pasti sudah bejibun di dunia maya dan lebih berisi dibandingkan tulisan saya. Jadi, mau bahas apa dong?

Nah, di dalam buku yang masih dibintangi oleh Robert Langdon tersebut, terdapat tokoh yang bernama Katherine Solomon. Kenapa saya tertarik dengan tokoh yang satu ini? Jadi, di dalam buku ini diceritakan bahwa Katherine Solomon mendalami sebuah ilmu pengetahuan baru yang disebut dengan ilmu Noetic. Menurut buku ini pun, ilmu Noetic merupakan ilmu yang menyatakan bahwa pikiran manusia merupakan pusat dari segalanya. Hal itu berimbas kepada adanya respons dari benda lain (yang mati) akibat pikiran manusia. Nggak percaya?


Ketika saya usut lebih lanjut, di dunia nyata, ilmu Noetic ini ternyata didukung oleh hasil penelitian Prof. Masaru Emoto yang menyatakan bahwa air (benda mati) dapat membentuk kristal-kristal sesuai dengan apa yang diucapkan kepadanya. Penelitiannya begini, jadi, di ambang kebekuan air tersebut, dibisikkanlah kata-kata sehingga ketika air tersebut membeku, kristal yang dibentuk akan sesuai dengan apa yang diucapkan.

Hmm… agak njelimet. Kita bersantai dulu deh. Nih liat gambarnya.

Source: https://www.powerofpositivity.com/this-water-experiment-proves-positive-thinking-works/
Lebih jauh lagi juga disebutkan di buku The Secret karangan Rhonda Byne (non-fiksi), terkait The Law of Attraction atau hukum tarik-menarik. Fyi, Papa saya sudah berulang-kali menjelaskan tentang itu sejak saya SD. Jadi, apa itu hukum tarik-menarik? Hukum tersebut menyebutkan bahwa, prinsipnya sama seperti ilmu noetic, bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, kita harus memvisualisasikannya. Hal tersebut bagaikan kita menarik keinginan kita sendiri. Dan itulah bagaimana keinginan kita bisa lebih mudah terwujud.

Contohnya begini. Dulu, saya ingin sekali masuk ke MAN Insan Cendekia Serpong. Akhirnya di lemari baju saya, saya tempelkan tulisan besar-besar “MAN Insan Cendekia” agar setiap hari saya melihatnya dan meyakini bahwa itulah calon sekolah saya. Dan hasilnya? Alhamdulillah, hingga tulisan ini dipublikasikan (di tumblr), saya terdaftar sebagai siswi kelas XII MAN Insan Cendekia Serpong.

See? Jadi sepertinya the law of attraction itu berkaitan erat dengan ilmu noetic. Tapi, lebih mantapnya lagi, menurut saya (dan pasti kalian semua setuju), para umat Muslim sudah mempraktekkan ilmu dan hukum itu dari jaman dahulu kala.

Apa coba? Bisa tebak? Cuma tiga huruf.
DOA.

Ya nggak sih? Katanya kalau kita memvisualisasikan keinginan kita, maka keinginan kita akan terkabul. Lha ya emang, kan? Apa coba yang kita lakukan setiap habis sholat? Mengangkat tangan dan mengucapkan keinginan kita tanpa ragu dalam setiap doa kita, kan? Jadi menurut saya, ilmu noetic hanya mencoba mengilmiahkan sesuatu yang memang terjadi begitu saja. Masalah bahwa partikel-partikel tersebut merespons jika kita memikirkan apa yang kita inginkan dari partikel tersebut merupakan bukti nyata bagaimana proses sebuah doa bisa dikabulkan.

Nah, sekarang tunggu apalagi? Mintalah kepada Allah apapun yang kau inginkan, sobat. Karena Allah Maha Mendengar segala permintaan hamba-Nya. Masih ragu? Ada ilmu noetic dan the law of attraction yang memperjelasnya secara ilmiah. Kun Fayakun, kata Allah. Jadi, berdoalah!