Tuesday, August 15, 2017

Memiliki Keturunan

Tenang saja, sampai tulisan ini dipublish, status gue masih high quality single yang belum pernah pacaran sekalipun.

But anyway.
Kalau gue menilik media sosial gue, sudah sangat banyak teman-teman seumuran gue yang menikah. Fenomena ini udah dari jaman dulu sih jadi gue mulai used to it secara gue tahun depan udah seperempat abad. Tapi yang bikin gue kadang berefleksi lebih lama adalah: mereka yang sudah menikah itu sekarang sudah punya anak. Iya, mereka sekarang memiliki amanah yang luar biasa besar karena diberikan titipan oleh Allah SWT untuk mengurus, mendidik, dan bertanggungjawab terhadap seorang anak. Gila sih menurut gue itu adalah tanggungjawab terbesar yang bisa dipegang seorang manusia. Punya anak.

Sampai sekarang aja gue selalu berfikir semua sikap dan tindakan gue adalah hasil dari didikan (baik sengaja maupun tidak sengaja) dari orangtua gue. Contoh: cara ngomong gue yang blak-blakan adalah gue yang meniru emak gue, kemampuan mendengarkan curhatan orang adalah turunan Papa, sikap gue yang suka bilang 'terserah' adalah hasil dari gue yang selalu disuruh mengalah pas masih kecil (dan gue somehow inget banget), etc lah kayaknya hampir semua aspek dalam hidup ini adalah bentukan dari gimana gue dididik dan diperlakukan di rumah.

Belum lagi ramenya berbagai workshop parenting yang ada saat ini. Bener-bener nunjukin kalo parenting itu adalah hal yang tidak bisa dianggap sepele, kan. Dan ditambah adanya kasus temen-temen gue yang 'bandel' dan ternyata alesannya adalah 'pemberontakan' terhadap orangtuanya. Alhamdulillah kalo bandelnya nggak ngerugiin orang lain, lah kalo bandelnya sampe ngeinfluence orang lain kayak youtuber yang sekarang lagi terkenal? Yang salah siapa? Somehow pasti ada beberapa pihak yang ngeblame orangtuanya kan.

Lebih jauh lagi yang bikin gue makin kepikiran adalah ketika gue menonton film berjudul Captain Fantastic. Di sini diceritakan gimana si captain ini punya cara yang unik buat ngedidik anak-anaknya, yang nggak disekolahin di sekolah formal. Keren sih. Tapi silahkan ditonton aja sendiri hahaha. Abis nonton ini gue berdebat abis-abisan sama temen pulang jalan kaki gue sepanjang jalan dari kampus sampai rumah, tentang homeschooling. Temen gue ngedukung homeschooling gara-gara dia liat di film itu kalo si anak-anaknya jadi berhasil, dan kita (orangtua) jadi punya kontrol penuh dalam pendidikan anak. Tapi gue sangat anti homeschooling karena menurut gue gimana bersosialisasi itu penting banget. Well gue pribadi malah ngerasa jadi lebih bisa berkomunikasi ketika gue ditaroh di tempat yang lebih heterogen (kampus), daripada ketika gue ditaroh di lingkungan yang super homogen (sekolah gue). My point is, anak gue nanti harus dikasih liat dunia luar juga dan gimana mereka deal with that, jangan di rumah doang.

Nah kan.
Gara-gara semua itu, gue sekarang jadi lebih concern ke gimana gue mendidik anak nantinya daripada siapa jodoh gue. Pernah gue kelepasan ngomong "nanti anak gue masukin ke sekolah mana ya" eeeh malah dibilang, "yaelahh pasangan aja belom ada" wkwkwk ya iya sih bener, tapi kan ga ada salahnya toh mikirin masa depan anak gue. Udah gitu gue cewek pula. Without no intention to be sexist, tapi gue selalu mikir kalau ibu adalah seorang yang membuat rumah menjadi rumah, dan ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Plus, tadi gue ketriggered juga sama omongan ibuk-ibuk yang gue liat di medsos gue: "orang jaman sekarang mah punya anak gara-gara lucunya doang" lol kadang gue juga sempet mikir gitu juga kalo lagi mode suudzon. Tapi kalo kata temen gue yang bijak dan udah punya anak, "punya anak berarti udah siap sama segala resikonya, kalo mau lucunya doang mah mending aku beli boneka aja."

Well.
Ya udah pada akhirnya mari kita doain aja itu temen-temen gue yang udah pada punya anak semoga bukan punya anak karena lucunya aja atau karena lagi trend (astaghfirullah).

Terus lu sendiri gimana, Bel?
Ya, sambil tetep mikirin anak gue ntar mau gue apain, gue mah tetep kudu nyelesein apa yang ada di depan gue dulu. Pun masih banyak tanggungjawab yang kudu gue handle di rumah nantinya sepulang gue dari Jepang raya ini, daripada harus nambah tanggungjawab lain. Toh masa depan nggak ada yang tau juga, kan?

Saturday, August 12, 2017

Kontemplasi

Jadi ceritanya gue lagi kesel banget sama seseorang temen gue yang memperlakukan gue sewenang-wenang seolah-olah gue tidak punya hati.

Edan bahasanya lebay pisan hahaha.

Well, yang mau gue tekankan bukanlah tentang pada siapa gue kesal dan apa yang dia lakukan sih. Tapi lebih kepada ketika gue akhirnya berkontemplasi dengan apa yang menyebabkan dia bersikap begitu kepada gue.

Turned out gue malah pada akhirnya menyalahkan diri gue sendiri.
Ya emang salah gue sendiri, kenapa dari awal harus mure, suka ngomong nyablak sekate-kate, dan terlihat nggak ambil pusing, sehingga orang-orang mengira bahwa gue adalah tipe yang bisa dibecandain tanpa diambil hati. Ya bener sih somehow dari dulu gue emang target bercandaan orang karena gue bisa ngehandle itu semua dengan selow. But somehow kalo udah keterlaluan kan jiwa wanita gue bisa keluar dan jadi gampang bete ya hahaha apasih inti dari tulisan ini.

Ya intinya adalah pada akhirnya, ketika lo kesel sama orang lain (apalagi temen sendiri), coba lo kontemplasi dan pikirin itu tuh salah dia apa salah lo. Kalo udah sadar kalo itu tuh salah lo sendiri, well you can just change your point of view and take it easy. Kedengerannya gue nyepelein ya? Padahal di sini gue juga struggling gimana biar gue bisa ngehandle semua ini dengan selow, walau jatohnya kadang jadi suka nyalah-nyalahin diri sendiri sih (and this, also, is not a good thing).

Ya udah jadi sekarang, mari belajar melihat segala sesuatunya dari sisi yang lebih positif agar bahagia.

source: here

Friday, July 14, 2017

The Law of Attraction

Jadi gue nemu tulisan gue jaman SMA yang akan gue up lagi di sini karena, lagi-lagi, isinya tentang resensi buku hahaha. Kali ini bukunya merupakan salah satu karya dari Dan Brown, The Lost Symbol. Btw harap maklum kalau gue nulisnya pakai kata ganti saya, karena tulisan gue dulu itu ditujukan buat tugas sekolah hahaha. Enjoy!

source: google
Menghabiskan waktu sepekan karena disela oleh study tour, menurut saya buku Dan Brown yang kali ini agak-agak lebih sepi dibanding buku-buku sebelumnya. Walaupun begitu, The Lost Symbol tetap recommended kok. Secara yang nulis adalah Dan Brown.

Well, sejujurnya tulisan ini bukan untuk membahas buku Dan Brown mengingat resensi dari buku tersebut pasti sudah bejibun di dunia maya dan lebih berisi dibandingkan tulisan saya. Jadi, mau bahas apa dong?

Nah, di dalam buku yang masih dibintangi oleh Robert Langdon tersebut, terdapat tokoh yang bernama Katherine Solomon. Kenapa saya tertarik dengan tokoh yang satu ini? Jadi, di dalam buku ini diceritakan bahwa Katherine Solomon mendalami sebuah ilmu pengetahuan baru yang disebut dengan ilmu Noetic. Menurut buku ini pun, ilmu Noetic merupakan ilmu yang menyatakan bahwa pikiran manusia merupakan pusat dari segalanya. Hal itu berimbas kepada adanya respons dari benda lain (yang mati) akibat pikiran manusia. Nggak percaya?


Ketika saya usut lebih lanjut, di dunia nyata, ilmu Noetic ini ternyata didukung oleh hasil penelitian Prof. Masaru Emoto yang menyatakan bahwa air (benda mati) dapat membentuk kristal-kristal sesuai dengan apa yang diucapkan kepadanya. Penelitiannya begini, jadi, di ambang kebekuan air tersebut, dibisikkanlah kata-kata sehingga ketika air tersebut membeku, kristal yang dibentuk akan sesuai dengan apa yang diucapkan.

Hmm… agak njelimet. Kita bersantai dulu deh. Nih liat gambarnya.

Source: https://www.powerofpositivity.com/this-water-experiment-proves-positive-thinking-works/
Lebih jauh lagi juga disebutkan di buku The Secret karangan Rhonda Byne (non-fiksi), terkait The Law of Attraction atau hukum tarik-menarik. Fyi, Papa saya sudah berulang-kali menjelaskan tentang itu sejak saya SD. Jadi, apa itu hukum tarik-menarik? Hukum tersebut menyebutkan bahwa, prinsipnya sama seperti ilmu noetic, bahwa ketika kita menginginkan sesuatu, kita harus memvisualisasikannya. Hal tersebut bagaikan kita menarik keinginan kita sendiri. Dan itulah bagaimana keinginan kita bisa lebih mudah terwujud.

Contohnya begini. Dulu, saya ingin sekali masuk ke MAN Insan Cendekia Serpong. Akhirnya di lemari baju saya, saya tempelkan tulisan besar-besar “MAN Insan Cendekia” agar setiap hari saya melihatnya dan meyakini bahwa itulah calon sekolah saya. Dan hasilnya? Alhamdulillah, hingga tulisan ini dipublikasikan (di tumblr), saya terdaftar sebagai siswi kelas XII MAN Insan Cendekia Serpong.

See? Jadi sepertinya the law of attraction itu berkaitan erat dengan ilmu noetic. Tapi, lebih mantapnya lagi, menurut saya (dan pasti kalian semua setuju), para umat Muslim sudah mempraktekkan ilmu dan hukum itu dari jaman dahulu kala.

Apa coba? Bisa tebak? Cuma tiga huruf.
DOA.

Ya nggak sih? Katanya kalau kita memvisualisasikan keinginan kita, maka keinginan kita akan terkabul. Lha ya emang, kan? Apa coba yang kita lakukan setiap habis sholat? Mengangkat tangan dan mengucapkan keinginan kita tanpa ragu dalam setiap doa kita, kan? Jadi menurut saya, ilmu noetic hanya mencoba mengilmiahkan sesuatu yang memang terjadi begitu saja. Masalah bahwa partikel-partikel tersebut merespons jika kita memikirkan apa yang kita inginkan dari partikel tersebut merupakan bukti nyata bagaimana proses sebuah doa bisa dikabulkan.

Nah, sekarang tunggu apalagi? Mintalah kepada Allah apapun yang kau inginkan, sobat. Karena Allah Maha Mendengar segala permintaan hamba-Nya. Masih ragu? Ada ilmu noetic dan the law of attraction yang memperjelasnya secara ilmiah. Kun Fayakun, kata Allah. Jadi, berdoalah!

Saturday, July 8, 2017

Outliers

Setelah rampung dengan The Time Keeper, keimpulsivitasan gue selanjutnya adalah membeli buku bertajuk Outliers karangannya Malcolm Gladwell, terbitan 2009. Sesuai tajuk di covernya, the story of success, buku ini merupakan buku tentang kesuksesan, yang kalau kata temen gue yang super logis, ngapain sih baca buku self-help gitu wakakaka. Tapi somehow nggak ada salahnya kan kita lihat sudut pandang orang lain dalam memandang kesuksesan? Dan buku ini bener-bener pas banget karena penulisnya punya sudut pandang yang cukup unik dalam menentukan berbagai hal yang menjadi faktor suksesnya seseorang.



Secara umum buku ini dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu part 1 Opportunity dan part 2 Legacy. Ketebak lah ya, berarti secara garis besar dia membagi faktor-faktor yang menjadi kesuksesan ke dalam dua part itu.

Di part opportunity, dia berkali-kali bilang kalau kesuksesan seseorang itu nggak cuma ditentukan oleh satu faktor doang. Tapi ada juga hal-hal lain yang tidak terduga, yang bisa menjadi faktor kesuksesan seseorang. Contohnya, tahun lahir. Absurd banget, kan? Tapi di sini dia mengambil contoh Bill Gates dan Steve Jobs yang ternyata jarak lahirnya nggak jauh beda, bahkan masih di tahun yang sama. Well ini nggak ada hubungannya dengan astrologi sih. Tapi menurut Pak Gladwell, dengan mereka lahir di tahun 1955, ketika perkembangan komputer sedang in, mereka sudah mencapai usia yang cukup untuk dapat mengembangkan ide-ide mereka di bidang komputer. Begitu juga untuk tahun lahirnya orang-orang yang sukses di bidang kewirausahaan di US yang disebabkan oleh karena usia kematangan mereka tepat di saat sedang terjadinya industrial revolution di US well jadi menurut Gladwell itu salah satu faktor yang bikin mereka sukses. Nggak cuma tahun lahir juga sih tapi juga berbagai kesempatan lainnya yang mereka dapatkan yang digabung dengan kerja keras, pada akhirnya bisa menghasilkan kesuksesan. Oh iya speaking of hardwork, dia juga bilang kalo rata-rata orang yang sukses itu menghabiskan waktu 10,000 jam dulu sebelum akhirnya sukses. Salah satu contoh yang dia ambil adalah The Beatles yang kita tahu emang beneran melegenda sampe sekarang. Contoh lain yang mindblowing adalah tipikal anak-anak yang disekolahin di tempat les musik gitu yang jago tuh karena emang mereka ngespare waktu buat latihan musik lebih banyak daripada yang tidak jago.

Di part legacy, dia lebih cerita tentang asal-usul seseorang yang somehow akan mempengaruhi karakteristik seseorang. Sounds rasis gitu nggak sih hahaha. Tapi well emang iya nggak sih? Salah satu contoh yang dia ambil adalah orang-orang Amerika selatan yang lebih keras dibanding orang-orang Amerika utara. Atau kayak perbedaan orang Asia sama orang Amerika dimana orang-orang Asia katanya lebih tekun dan lain sebagainya karena leluhurnya punya culture menanam padi yang emang dituntut untuk telaten dibanding petani lainnya. Percaya atau tidak percaya sih, tapi dia ngasih banyak contoh dan hasil riset jadi somehow hipotesis dia emang proven.

Dan, masih di part legacy, dia tutup bukunya dengan pembuktian hipotesis-hipotesis dia di keluarga dia sendiri hahaha jadi lucu aja kayak well hipotesis dia bisa diaplikasikan ke siapa aja berarti.

Nah, yang gue suka dari buku ini adalah cerita, contoh, sampel, you name it, itu tuh banyakkk banget. Kalau kata Windi, buku ini well-researched banget dan iya banget menurut gue pun. Seperti yang udah gue bilang lagi, walaupun agak mindblowing tapi gara-gara dia provide berbagai contoh dan hasil riset banyak psikolog jadi somehow hipotesisnya jadi keliatan emang proven gitu hahaha. Walaupun gitu kalo liat review buku ini juga suka banyak yang negatif, tapi menurut gue sih itu cuma karena emang dia ngambil sudut pandangnya agak unik aja jadi ga semua orang setuju. Well, still worth to read kok bukunya.

Selamat membaca!

Thursday, June 29, 2017

Penjaga Waktu

Lepas dari banyaknya text book yang dikasih sensei buat thesis gue, gue udah lama banget nggak baca buku. Well, text book dari sensei aja nggak pernah ada yang habis, mengingat itu reference book yang not meant to be dibaca dari depan ke belakang banget. Tapi kemarin, gue seperti kembali ke diri gue yang lama karena berhasil membaca satu buah buku hanya dalam jeda waktu sehari semalam yeah. Dan buku beruntung itu adalah The Time Keeper buatan Mitch Albom, terbitan 2012, yang gue beli di Amazon (info nirfaedah).

Tujuan tulisan ini bukan buat resensi ya, tapi cuma biar gue nggak lupa aja apa yang udah gue baca.



So, buku ini diawali dengan cerita dari tiga tokoh yang berbeda. Seseorang di masa lalu bernama Dor, lalu dua orang di masa kini bernama Sarah dan Victor. Ketiga orang ini tidak saling mengenal tapi mereka punya cerita masing-masing yang berhubungan dengan waktu.

Dor, adalah seorang cerdas yang pada zamannya belum mengenal waktu dan pada akhirnya ternyata dialah yang menginisiasi penghitungan waktu tersebut dari mangkuk, air, dan tongkat.
Sarah merupakan seorang remaja berusia 17 tahun yang juga cerdas, namun karena satu dan lain hal ia tidak menghargai waktu dalam hidupnya dan malah ingin menghentikan waktu.
Victor sebaliknya, merupakan seorang billioner yang waktu hidupnya sudah ingin habis tapi ia tidak mau mengakui kenyataan tersebut dan berusaha sekuat tenaga untuk memperpanjang waktunya.

Ya gue nggak akan cerita detail tentang buku ini sih karena gue juga anaknya gak suka spoiler wkwkwk. Tapi intinya di buku ini tuh benar-benar diajarin bagaimana kita harus menghargai waktu yang kita punya. Well, dari semua makhluk ciptaan-Nya, yang paling terobsesi sama waktu hanya manusia, bukan? Ayam tidak pernah terlambat berkokok, dan induk burung selalu tepat waktu untuk memberi makan anaknya, bukan? Lalu kenapa kita terlalu stressed out sama yang namanya waktu, dan kadang-kadang suka merasa kehabisan waktu? Dan jangan lupa juga bahwa kita semua memang diberikan limit (waktu) pada hidup kita, jadi jangan lupa untuk membuat setiap detiknya lebih berharga. Kalau dikaitkan dengan agama gue sih, sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Jadi, jangan lupa untuk membuat setiap detik kita berharga dan bermanfaat bagi diri kita dan orang lain. E&.

Tapi yang gue kurang sreg sama buku ini adalah plot ceritanya terlalu absurd hahaha tapi wajar sih mengingat ini adalah novel fantasi. Tapi di dalam hati gue juga mengganjal berbagai pertanyaan tidak terjawab seperti, siapa si kakek-kakek yang suka nyamperin Dor? Dan siapa pula si pemilik toko jam yang serbaada yang nantinya Dor kerja di situ? Dan kenapa Dor bisa jadi kerja di toko jam???? Oke ini memusingkan apalagi kalo lo belum pada baca wkwkwk.

To sum up, selain isinya yang bagus, mengingat gue bisa membacanya dengan cepat, berarti bahasa yang ia pakai cukup mudah hahaha dan ceritanya mengalir begitu saja jadi enak. Soooo menurut gue buku ini worth to try banget sih buat yang lagi pengen bacaan bermakna yang tidak terlalu berat.

Wednesday, June 28, 2017

Tira Miss U

Judulnya saja sudah alay ya saudara-saudara.
Jadi ceritanya pas bukber kemarin gue dan Rezkita sempat bikin tiramisu. Sekarang resepnya gue tulis di blog ini hanya biar gue inget dan bisa gue praktekkan lagi di rumah di Indonesia nanti. Yang menyenangkan dari tiramisu ini adalah no need to bake hahaha ya banyak sih kue jaman sekarang yang ga perlu dibake, but still. Oke ga usah banyak cingcong, check this out:

Bahan:
Lady Finger
Kopi yang sudah diseduh
Mascarpone Cheese 2 kotak (berapa ukurannya menyusul)
Heavy Cream 500 ml
Gula halus sesuai selera
Bubuk cocoa
Cokelat batang, iris kecil-kecil/hancurkan

Cara:
1. Campur mascarpone cheese dan gula, cukup diaduk-aduk dengan menggunakan spatula/sendok saja, dirasakan sampai manis sesuai selera. Saran gue, nggak perlu terlalu manis karena di lapisan atas dan bawahnya nanti ada cokelat dan kopi yang sudah cukup manis.
2. Mixer heavy cream sampai mengembang
3. Campur heavy cream dengan mascarpone cheese yang sudah diberi gula, sama seperti tadi, cukup diaduk-aduk dengan menggunaka spatula atau sendok. Lapisan krim jadi.
4. Tata lady finger di wadah (bisa loyang, atau wadah semacam wadah pyrex gitu), rapat-rapat sampai wadah tertutup lady finger.
5. Siram lady finger dengan kopi, tidak usah sampai banjir, cukup sampai lady fingernya dirasa cukup basah.
6. Masukkan lapisan krim di atas lady finger (kira-kira 1-2 cm). Jika ingin membuat tiramisu yang berlapis, silahkan lanjutkan ke step 7, namun jika tidak bisa loncat ke step 9.
7. Tata kembali lady finger di atas lapisan krim, kembali siram dengan kopi.
8. Masukkan lapisan krim di atas lapisan lady finger kedua.
9. Ayak cocoa ke atas lapisan krim agar semua lapisan atasnya tertutupi cokelat.
10. Taburi irisan cokelat
11. Masukkan ke kulkas kira-kira 2 jam
12. Makan!

Ala Gue dan Rez

Tuesday, June 27, 2017

Kulit Roti

Okey setelah hari kemenangan saatnya kita meriweuh di dapur kembali.
Jadi ceritanya kemarin gue iseng aja bikin roti goreng karena gampang dan enak. Bikin roti goreng ini gampang banget, tinggal ngulitin roti, diisi (bebas), dibalur telur dan bread crumbs, lalu goreng.
Namun ada satu kendala setelaha memasak roti ini: kulit rotinya dikemanain ya?

Which is sayang banget kalo dibuang karena ague bikin 8 roti gulung brow kebayang kan sebanyak apa sisa kulit rotinya. Jadi kali ini gue akan membeberkan 2 resep mengolah kuit roti, yang satu versi ribet (tapi enak), yang satu versi biasa aja tapi guampang buanget.

1. Puding Roti (and banana and chocolate)

Bahan:
Kulit Roti
3 buah Pisang (hancurkan)
Susu cair (secukupnya, jangan sampai tekstur bahannya jadi terlalu encer)
3 butir telur (kocok lepas)
Cocoa
Vanili (sedikit)
Gula
Kayu Manis bubuk (kalo nggak ada, yang batang juga bisa, tapi pas udah mau dibake diambil dulu ya)
Kacang (sesuai selera)
Keju

Cara:
Technically tinggal campurin semua bahan kecuali keju. Kalo mau ngikut resep banget, urutannya:
Pisang yang sudah dihancurkan, lalu telur yang sudah dikocok, lalu susu cair, kemudian cocoa+vanili+gula+kayu manis, lalu terakhir si kulit roti. Setelah adonan rata (teksturnya nggak terlalu encer ya), tuangkan adonan ke dalam cetakan cup-cup kayak buat muffin gitu. Setelah itu tambahkan keju di atasnya. Kemudian bake deh pake oven selama 5-10 menit.
Sayang gue nggak punya foto hasil jadinya tapi percayalah ini enak,


2. (Honey or Cheese) Bread Roll

Kalo yang ini, gue ngikutin resepnya dari Cookpad pas bener-bener zonk mau bikin apa dari kulit roti, dan resep nomor 1 susah serta gue nggak punya bahannya. Kalau mau lebih detail sih bisa lihat di sini.

Bahan:
Kulit Roti
Susu cair
1 butir Telur
Gula
Minyak (atau olive oil atau margarin)

Topping:
Bebas, bisa madu/susu kental manis/keju/gula halus, sesuai selera

Cara:
1. Kocok telur, lalu masukkan susu dan gula.
2. Susun kulit roti di mangkok tahan panas agar berbentuk melingkar.
3. Tuangkan campuran telur-susu-gula ke atas roti, tapi jangan sampai meluber.
4. Panaskan roti dengan microwave selama 2 menit. Kulit roti akan menempel satu sama lain dan membentuk seperti bread roll.
5. Panaskan wajan yang telah diolesi minyak. Lalu panggang roti di atas wajan. Voila! Jadi seperti ini:


6. Tambahkan topping sesuai selera, bisa ditaburi gula halus saja, atau diolesi madu, atau favorit saya: dikasih susu kental manis dan keju.

Enak dan super mudah (serta kenyang, ciyus). Selamat mencoba!