Sunday, January 10, 2021

The not really broken heart

Di awal tahun 2021 ini, aku tidak menyangka aku akan belajar banyak hal yang berkaitan dengan hati. Hati yang kukira sudah cukup stabil mendapatkan asupan cinta dari orang-orang yang aku sayangi.

Sampai tibalah saatnya hati ini mengalami turbulensi, oleh seseorang yang sudah cukup lama berada di dalamnya.

Kukira dia mencoba pergi. Sekuat tenaga aku berusaha mencegahnya. Berhari-hari aku mencoba menahannya hingga air mataku membanjirinya.

Sampai di suatu titik, aku berhenti. Aku mencoba memahami dan ikhlas terhadap apapun yang akan terjadi.

Ternyata, dia tidak pergi.

Dia hanya membetulkan posisinya.

Posisi yang lebih stabil, lebih kokoh, dan lebih nyaman untuk kami berdua.

Yang membuat keyakinanku akan keberadaan dirinya di hatiku, menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

Yang membuatku dan dia siap melangkah agar bisa menjadi terus lebih baik.

Yang membuatku dan dia siap menghadapi segalanya.

Bersama.

InsyaAllah.

Friday, January 8, 2021

twenty twenty, one

Congratulations guys!
Alhamdulillah we passed 2020, safe and sound.

Well, not really.
Take a look back at 2020, many bad news, many tears, fears, and burnouts happened over a year.
Highlight of the year, of course, the Covid-19 pandemic.
Other highlight, well.. nothing.

No personal trips, no biztrips, no mudik, no random travels, not even meeting my friends since Mar 2020.
My office calendar even stuck at Mar 2020, until I went to office on October once and flipped it directly to Dec 2020, knowing I would not go to the office until then.

And it seems like Covid situation will not end in anytime soon, so, just grab your blanket and stay at home until only God knows when.

To welcome 2021, I'd like to emphasize that 2021 is twenty twenty, one.
So 2021 may (or may not) be only the extension of 2020.
Hopefully not.
Let's not put any high hope here, but please don't forget to take care of ourselves.
Physically and mentally.

Happy new year.

Tuesday, October 20, 2020

Wow

Memasuki paruh akhir bulan Oktober, berarti 2.5 bulan kita akan menyelesaikan tahun 2020 yang penuh tantangan ini.

Kesan dan pesan untuk tahun ini?
Wow aja sih.

Terlepas "wow" mengandung banyak makna, dari positif sampai negatif, tapi yang jelas "wow" merupakan ungkapan yang menyiratkan keterkejutan.

Bagaimana diri ini tidak terkejut?
Indonesia sudah memasuki bulan ke-7 situasi pandemi tapi angka positifnya masih kunjung melonjak dengan test rate yang cenderung malah turun. Yahhh nobody to blame deh secara arahan dari pemerintah emang untuk berfokus pada pemulihan perekonomian saja dulu.
Untuk perkara kesehatan? Kan sebentar lagi ada vaksin~

Bagaimana diri ini tidak terkejut?
Walaupun lini media massa sudah mulai redup dalam pemberitaan perkara kontroversi Omnibus Law yang disahkan oleh DPR awal bulan ini, tapi gelombang protes rakyatnya masih ada hampir setiap hari di berbagai penjuru kota. Gue yang awam ini sampai bertanya-tanya apakah Omnibus Law ini sebegitu urgent-nya sampai harus disahkan di tengah pandemi yang masih berkecamuk? Ya gue juga gak punya kapasitas buat ngomong lebih jauh tentang Omnibus Law sih, tapi gue cuma agak heran aja sama timing-nya.

Bagaimana diri ini tidak terkejut?
Sepanjang 7 bulan ini sudah tak terhitung berapa banyak belanjaan impulsif yang gue beli dari marketplace online hahahaha. Mulai dari milk froather, alat merajut, alat pembersih sisik ikan, sampai alat pembersih punggung?! Luar biasa memang keajaiban jempol ini dalam belanja online. Hahaha.

Lalu tiba-tiba jadi inget serial baru Netflix yang berjudul Social Distance
Serial yang dibungkus dalam bentuk antologi ini, cukup dapat menggambarkan situasi pandemi yang terjadi di dunia saat ini. Serial tersebut mengangkat berbagai konflik yang timbul selama masa pandemi, mulai dari isu mental health, konflik rumah tangga dan keluarga, sampai aksi #BlackLivesMatter yang bergaung bulan Mei kemarin (di tengah pandemi for sure).

Gue jadi berandai-andai, mungkin kalau dibuat dengan latar belakang Indonesia, bisa jadi serial tersebut malah lebih seru. Mulai dari perkara kecil kayak konflik jenis masker (masker kain lah, masker scuba lah, wacana masker SNI lah), resistensi pemerintah dalam penerapan lockdown yang berimbas Indonesia being locked down by other countries, sampai demonstrasi rusuh akibat Omnibus Law padahal negara ini masih dalam situasi pandemi.

Yah sudahlah yaaa.

Ngapain juga gue pusing-pusing mikirin orang lain. Mendingan kita pikirin diri sendiri aja dulu deh, bagaimana agar tetap bisa menjaga kesehatan diri dan keluarga. Eits tapi kudu inget, yang harus dijaga bukan cuma kesehatan fisik, tapi juga kesehatan mental. Eaaa.

Monday, September 28, 2020

Vaksin HPV Edisi di Rumah Aja

Sejak mengetahui informasi bahwa vaksin HPV di-cover oleh asuransi kantor, gue langsung ambisius dan berniat untuk melakukan vaksin ini. Iya, bahkan saat itu gue belum berniat akan menikah dalam waktu dekat. Pokoknya dalam benak gue waktu itu, gue harus melakukan vaksin ini, mumpung di-cover kantor gue, dan mumpung masih single. Titik.

Tapi buat yang penasaran, sebenarnya apa sih vaksin HPV?

Vaksin HPV adalah vaksin yang dilakukan sebagai tindakan pencegahan bagi para wanita agar terhindar dari kanker serviks (cervix) atau kanker rahim. Sebagai milenial masa kini, pasti tau dong kanker serviks adalah salah satu jenis penyakit yang paling berbahaya dan mematikan untuk wanita. Salah satu penyebab dari kanker serviks ini adalah adanya infeksi dari virus HPV alias Human Papilloma Virus, karena itulah vaksin HPV ini diperlukan.

Konon katanya, vaksin ini lebih efektif jika diberikan kepada wanita yang masih single dan belum pernah berhubungan. Mengapa? Karena virus ini memang lebih rentan muncul pada wanita yang sudah pernah berhubungan. Sehingga sebagai tindakan pencegahan, vaksin ini akan lebih efektif jika diberikan pada wanita yang belum pernah berhubungan karena sudah dapat dipastikan bahwa virusnya memang belum ada. Bagi wanita yang sudah pernah berhubungan, boleh saja diberikan vaksin ini dengan syarat sebelumnya sudah diperiksa (e.g. papsmear) untuk memastikan tidak ada virus HPV pada rahim. Ditambah pula, ketika sedang dalam proses pemberian vaksin (kurang lebih enam bulan), sang pasien tidak boleh dalam keadaan hamil (sebisa mungkin tidak berhubungan juga karena ada kemungkinan akan hamil). Jika terlanjur hamil, prosesnya harus diulang lagi dari awal setelah kehamilan selesai.

In short, mendingan pas masih single aja gan vaksinnya. Terutama buat kalian yang belum punya rencana menikah, mendingan dari sekarang. Seriusan. Daripada ntar buru-buru atau malah nggak keburu.

Kenapa gue bilang takut nggak keburu? Karena proses pemberian vaksin ini cukup lama gengs, sekitar 6 bulan periodenya. Total vaksin ini terdiri dari 3x suntikan, yang diberikan di bulan ke 0-2-6. Contohnya, kemarin gue suntik di bulan September 2020. Simulasinya seperti berikut:

Bulan ke-0 = September 2020

Bulan ke-2 = November 2020

Bulan ke-6 = Maret 2021

Naaah selama September 2020 sampai Maret 2021 ini, gue nggak boleh hamil, dan kalau bisa nggak boleh berhubungan (biar nggak hamil). Ya alhamdulillah nya gue masih single sih. Tapi kurang lebih begitu lah gambaran mengapa vaksin ini lebih baik dilakukan ketika masih single dan jauh-jauh hari sebelum menikah. Maka dari itu, mumpung masih single, ayo vaksin HPV gengs!

Oh iya, vaksin HPV sendiri di Indonesia ini ada 2 jenis, Cervarix dan Gardasil. Cervarix ini khusus untuk wanita, sementara Gardasil bisa untuk pria atau wanita. Setau gue sih fungsinya lebih lengkap yang Gardasil, makanya harganya juga lebih mahal. Pun ketersediaan jenis vaksin ini beda-beda di setiap Rumah Sakit/Faskes. Anyway for further info mendingan konsultasi dulu aja ke dokternya sebelum minta mau vaksin yang mana, OK?

Nah, selanjutnya gue akan me-review sebuah rumah vaksin tempat gue melakukan vaksin HPV. Rumah vaksin ini bernama Medivax, yang terletak di bilangan Bintaro. Keunggulan dari rumah vaksin ini adalah: ada layanan home service-nya! Jadi, walaupun lokasinya di Bintaro, mereka rela jauh-jauh nyamperin ke rumah gue di Depok. Luar biasa banget kan? Di masa pandemi gini, gue sih parno ya kalo harus pergi ke Rumah Sakit atau faskes manapun... jadi begitu gue tau ada jasa ini, bener-bener super relieved banget dan langsung gue coba kontak ke kontak yang ada di akun instagram mereka, @medivax.id.

Sebenarnya gue pun tau rumah vaksin ini dari instagram salah satu senior kuliah gue. Dan meskipun rumah vaksin ini terbilang masih baru, dokter slash owner dari rumah vaksin ini ternyata adalah teman dari senior kuliah gue tersebut, makanya gue merasa aman nyaman dan terjamin. Plus, Medivax ini rekanan dengan Klinik Inharmony dalam penyediaan vaksinnya, yang mana menurut adik gue ya terjamin juga lah mutunya.

Terkait harga, per September 2020 sih harga untuk vaksin HPV Gardasil sebesar IDR 1,070,000 per suntik, jadi total IDR 3,210,000 untuk 3x suntik (belum termasuk jasa home service-nya ya, besaran harganya tergantung jarak dari Bintaro ke TKP). Di Instagramnya lengkap banget kok ada price list nya juga siapa tau kalian penasaran.

Kesan gue untuk pelayanan Medivax: TOP banget sih parah.

1. Bu dokternya baik, ramah, helpful, dan super informatif banget. Sebelum disuntik, langsung dikasih tau dulu efek samping setelah vaksin HPV nya seperti apa, jadi gue nggak terkaget-kaget nantinya. Bahkan gue nanya-nanya hal lain yang nggak relate sama suntik HPV juga dijawab dengan super komplit!

2. Rumah gue di pelosok Depok tapi mereka tetap mau melayani sepenuh hati dan bahkan dikasih diskon dong.. 

3. Gue dapet diskon karena suntik HPV ini kan tiga kali, dan mereka menawarkan kalau dibayar di awal, gue bakal dapet diskon untuk jasa home service-nya sebesar IDR 300,000. Lumayan banget kan! Plus, karena adik gue juga divaksin, jadi jasa home service-nya terasa lebih murah. Dan jasa home service ini sudah termasuk perlengkapan APD bu dokternya yah, jadi bu dokternya bakalan dateng dengan APD lengkap jadi terasa aman banget.

4. Dari awal, gue punya permintaan yang cukup ribet ke mbak admin Medivax perkara receipt, demi bisa di-reimburse di kantor. Despite keribetan request gue, semua itu beneran dipenuhi sesuai keinginan gue doong hahaha.

5. Dipost di instagram LOL

dari laman Instagram @medivax.id

Selain vaksin HPV, Rumah Vaksin Medivax ini juga melayani berbagai jenis vaksin yang lain untuk anak dan dewasa. Contoh vaksin yang lagi laris-larisnya, menurut sang bu dokter, adalah vaksin Influenza dan Pneumonia. Kedua vaksin ini adalah vaksin yang direkomendasikan oleh WHO untuk diberikan selama masa pandemi seperti saat ini. Jadi kalau kalian ada yang tertarik, silahkeun langsung aja dikontak ke kontak WhatsApp yang ada di laman instagram Rumah Vaksin Medivax ini. Atau bisa juga langsung mengunjungi klinik mereka di bilangan Bintaro.

Semoga bermanfaat!

Friday, August 21, 2020

Short Movie: Tilik

Belakangan ini di media sosial dan lapak LINE today, gue sering melihat berita tentang film pendek ini berseliweran. Film ini sebenarnya sudah ada dari sejak tahun 2018 dan sudah memenangkan beberapa penghargaan untuk kategori film pendek seperti Piala Maya 2018, Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018, dan Official Selection World Cinema Amsterdam 2019. Namun, film garapan Ravacana Films dan Dinas Kebudayaan DIY ini akhirnya menjadi viral di kalangan netijen setelah naik tayang di kanal Youtube Ravacana Films beberapa hari yang lalu.

Film berjudul Tilik ini diambil dari kata tilik yang berarti menjenguk. Sesuai judulnya, film ini bercerita tentang rombongan Ibu-Ibu yang hendak menjenguk Bu Lurah yang baru saja masuk RS. Uniknya, ibu-ibu ini pergi dengan menggunakan moda transportasi truk. Walaupun sudah jarang melihat pemandangan kayak gini, buat gue somehow ini relate banget karena memang di perkampungan sana biasanya rombongan ibu-ibu sering bepergian secara bersama-sama dengan menggunakan truk; ya pengajian lah, kondangan rame-rame lah, dan lain sebagainya.

Para Ibu-Ibu tumplek dalem satu truk

Nah, sepanjang perjalanan menuju RS, rombongan ibu-ibu ini sibuk berghibah dan bergunjing wae dipimpin sama ibu-ibu berjilbab hejo namanya Bu Tejo (lah kok rhyming hahaha). Alkisah mereka sibuk ngegunjingin salah satu perempuan yang ada di desa mereka, namanya Dian. Wuidih gosipnya asoy banget deh. Dengan bersumber dari Bu Tejo yang bersumber dari internet dan asumsi-asumsi dia sendiri, para ibu-ibu tampak khusyuk menyimak, bahkan ada yang kompor dan mengiya-iyakan semua kata-kata Bu Tejo. Sepanjang nonton rasanya gue pengen ikutan nimpalin, "Gunjing terooos Buuuk."

KZL banget kan

Di sisi lain, ada juga ibu-ibu bernama Yu Ning (jilbab cokelat, yang mukanya bete banget) yang selalu mencoba mengingatkan Bu Tejo agar jangan berasumsi aneh-aneh kalau belum jelas faktanya. Tapi Bu Tejo mah sabodo wae lanjut aja gosipin Dian terus menerus sepanjang jalan. Pokoknya sepanjang film kita bener-bener dibikin gemez deh sama si Ibu yang mulutnya LEMEZ banget ini. Lepas dari apakah berita yang dibawa oleh Bu Tejo tentang Dian ini benar atau salah, tetep aja kzl dan gmz banget liat si Ibu ngumbar aib orang lain seenak jidat.

Tapi guys, sesebel-sebelnya atau segemes-gemesnya sama Bu Tejo, sadar nggak sih kalau sebenarnya kita pasti pernah melihat sosok Bu Tejo dalam kehidupan sehari-hari, atau bahkan malah menjadi Bu Tejo itu sendiri. Serius deh, sebenarnya karakter Bu Tejo dan ibu-ibu di truk ini sebenarnya benar-benar relatable dengan kehidupan masyarakat alias NETIJEN jaman sekarang. Ada yang hobi bergunjing kayak Bu Tejo, ada yang hobinya ngomporin, ada yang berteguh pada pendirian kayak Yu Ning, atau yang diem-diem aja tapi menyimak kayak ibu-ibu yang lain. Balik lagi, lepas dari kebenaran beritanya, apakah bijak untuk nyebarin aib orang apalagi yang faktanya belun jelas?

Nah pertanyaan selanjutnya, termasuk golongan yang manakah kita dalam society, baik di dunia nyata maupun maya?

Meanwhile speaking of relatable, sepanjang film ini juga gue sebenarnya terkekeh sendiri. Ya gimana ya? Gara-gara film ini dikemas dengan settingan serombongan ibu-ibu yang ngobrol heboh pake bahasa Jawa, yaaa Allaaahhhh ngikik lah gue langsung teringat akan tante-tante dan saudara-saudara gue di Jawa yang emang kalo ngobrol hebohnya masya Allah hahaha. Dan fun fact, gue pun PERNAH LOH naik pick up sama sepupu-sepupu gue buat ngunjungin rumah salah satu saudara gue yang tinggal di atas bukit. Jadi memang culture rombongan ibu-ibu naik truk ini tidak mengadi-ngadi guys hahaha. Gak heran kalau kemudian produksi film ini juga disponsori oleh Dinas Kebudayaan DIY.

Sebagai intermezzo, adegan berikut ini juga sangat Indonesia:


Adegan di atas adalah adegan ketika rombongan ditilang oleh polisi. Pertanyaannya, kenapa yang ditilang lebih galak daripada yang menilang? Tapi gue lebih penasaran lagi kenapa ibu-bu di sebelah kiri malah selfie ya salaaaam hahahaha.

Ya sudahlah daripada review ini semakin ngelantur, hayu atuh kita tonton film pendek yang satu ini. Dan terakhir, ada rekomendasi film pendek lainnya?


*semua gambar pada tulisan ini diambil dari tangkapan layar video di kanal Youtube Ravacana.

Thursday, August 20, 2020

MBTI

Dalam enam bulan terakhir, ada tiga orang dari tiga circle pergaulan gue yang berbeda, tiba-tiba menanyakan tipe MBTI gue. Tau kan, MBTI?

MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) adalah sebuah klasifikasi tipe kepribadian yang didasari oleh cara seseorang melihat, merasakan, dan bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Tes ini memiliki 4 skala kecenderungan utama, dimana masing-masing skala tersebut terbagi menjadi 2 kutub sebagai berikut: 

E atau I; Extrovert atau Introver, memiliki beberapa definisi, tapi menurut gue pribadi definisi yang paling cocok adalah darimana seseorang dapat mengumpulkan energinya; apakah dari kekuatan-kekuatan di luar dirinya (ekstrovert), atau dari dalam dirinya sendiri (introvert). Kadang-kadang parameter ini juga suka diasosiasikan dengan apakah orang tersebut socially active atau socially inactive, tapi gue nggak terlalu setuju. Karena ada kok beberapa orang yang kalem dan pendiam tapi sebenarnya dia ekstrovert dan suka keramaian.

S atau N; Sensing atau Intuitive, adalah tentang bagaimana seseorang mendapatkan informasi.  Sensing berarti baru bisa menerima sebuah informasi dari sesuatu yang dapat dia rasakan/sense (lihat, dengar, etc.) secara langsung, sementara Intuitive lebih melihat segala sesuatunya secara garis besar dan dapat menarik hubungan dan kesimpulan dari garis besar tersebut. 

F atau T; Feeling atau Thinking, adalah tentang bagaimana seseorang membuat keputusan. Orang-orang dengan kepribadian Feeling cenderung memutuskan sesuatu didasari oleh emosi, perasaan, dan nilai-nilai yang dianut, sementara si Thinking biasanya lebih mengutamakan logika dalam memberikan keputusan.

P atau J; Perceiving atau Judging, adalah preferensi seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya, apakah well-organized dan terstruktur (tipe Judging), atau fleksibel dan terbuka pada berbagai macam kemungkinan yang ada (tipe Perceiving).

Kombinasi dari skala-skala di atas, membagi indikator kepribadian MBTI menjadi 16 kombinasi kepribadian sebagai berikut:

humanmetrics.com

Ke-16 kombinasi ini tentu menghasilkan sifat yang berbeda-beda, dari segi kehidupan pribadi, pekerjaan, cara berkomunikasi dengan orang lain, cara berteman, bahkan cara membahagiakan diri sendiri, dan lain-lain. Buat kalian yang struggling atau punya masalah untuk mengenal diri sendiri, menurut gue tes ini cukup bisa menjadi langkah awal sih. Nggak sedikit juga orang yang jadi mengacu pada kepribadian mereka ketika memutuskan untuk memilih suatu karir.

Meskipun ya nggak bisa diambil mentah-mentah juga karena logically nggak mungkin semua orang di dunia ini cuma terkategori menjadi 16 macam kepribadian, kan? Pun keempat poin di atas tuh cuma kecenderungan aja, jadi orang yang F (feeling) bukan berarti nggak punya logika sama sekali, cuma sifat F nya lebih dominan aja makanya keluar hasilnya F. Selain itu, kesimpulan yang gue ambil dari mengobservasi diri gue sendiri (maaf narsis banget) adalah, ya kepribadian lo bisa banget ganti sesuai dengan lingkungan dan situasi lo saat itu. Jadi balik lagi, si MBTI ini cukup sebagai referensi aja.

Lebih detailnya bisa coba tes sendiri aja deh hahaha. Sebenarnya banyak website dan tempat tes MBTI, tapi yang cukup lengkap dan ilustrasinya gemes menurut gue adalah website 16personalities.com
Mangga dicoba guys.

In my case, ketika ditanya tipe MBTI gue lupa-lupa inget karena pas jaman kuliah aja sempet beda-beda, antara ESFP atau ENFP.  Tapi akhirnya awal tahun ini gue coba tes ulang di website di atas, dan surprisingly hasilnya beda lagi, yaitu INFP. Ya walaupun cuma versi introvert dari hasil tes gue sebelumnya sih. Kemudian beberapa bulan kemudian gue coba tes lagi dan hasilnya masih tetap INFP. Well, secara sejak sekitar 2 tahun yang lalu gue udah yakin banget sifat introvert gue lagi kenceng-kencengnya, maka gue menetapkan, OK gue INFP for now hahaha.

Nyebelinnya, temen-temen gue yang bertanya ini kekeuh banget kalo gue itu ekstrovert, jadi mereka lebih setuju kalo gue ENFP. Bingung kan? Gue yang tes kenapa mereka yang repot. Tapi usut punya usut, ternyata memang persentase sifat Introvert dan Ekstrovert gue kayak gini guys:

Say Hi to the Real Ambivert here!

Hahaha.

Tapi intinya ya itu tadi, MBTI ini bisa kita jadikan referensi atau bahan refleksi, tapi nggak perlu ditelen bulet-bulet atau malah dijadikan excuse buat kekurangan kita. Jangan ya, guys. Tujuan kita mengenali diri sendiri adalah agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, bukan buat nyari excuse.

Jadi, apa hasil tes MBTI mu? :)

Tuesday, August 18, 2020

Update: Membuat Paspor (2020)

Dulu saya sudah pernah menulis tentang cara membuat paspor di sini. Namun mengingat tulisan tersebut sudah 5 tahun yang lalu, sepertinya sudah banyak yang tidak relevan.

Maka dari itu, kali ini saya akan membahas tentang pengalaman saya membuat e-paspor di Kanim Kelas I Jakarta Selatan, Maret 2020 lalu. Kenapa kali ini saya membuat e-paspor? Karena, konon katanya sih e-paspor ini lebih secure dan lebih mudah mendapatkan VISA—bahkan free VISA buat ke Jepang! Berhubung paspor lama saya akan expired di akhir tahun ini, jadilah niatan saya untuk memperpanjang paspor tersebut akhirnya ditambah dengan sekalian meng-upgrade paspor saya menjadi e-paspor.

Sekedar informasi, tidak semua Kanim (Kantor Imigrasi) menyediakan layanan pembuatan e-paspor. Oleh karena itu, saya harus mengecek dulu daftar Kanim terdekat yang menyediakan layanan tersebut via googling. Berhubung rumah saya di Depok, ternyata Kanim terdekat dari rumah saya adalah Kanim I Jakarta Selatan yang terletak di bilangan Warung Buncit. Langsung lah saya memulai perencanaan.

Perbedaan cara membuat paspor terdahulu dengan yang sekarang adalah saat ini kita harus mengambil nomor antrian dengan menggunakan aplikasi yang bisa diunduh di Google Play Store. Di aplikasi tersebut, kita akan diminta untuk membuat akun dan mengisi data diri seperti nomor KTP, nama, dan lain-lain. Setelah selesai membuat akun, langsung lah kita bisa memilih slot hari dan jam berapa kita akan datang ke Kanim tujuan. Oh iya sekedar informasi, saat kita membuka aplikasi tersebut kita harus mengaktifkan location, dan pilihan Kanim yang tersedia adalah Kanim yang berada di dalam satu provinsi dengan lokasi kita saat itu. Contohnya, ketika saya membuka aplikasi tersebut di rumah saya (Depok), pilihan Kanim yang tersedia di aplikasi adalah Kanim yang berlokasi di Jawa Barat (Depok dan sekitarnya). Sehingga, saya harus membuka aplikasi tersebut di kantor (Jakarta) agar bisa memilih Kanim I Jakarta Selatan.

Anyway, setelah mendapatkan slot dan nomor antrian, pastikan kita datang di hari dan jam yang telah kita pilih. Jika kita gagal hadir, kita baru bisa mendaftar kembali 30 hari setelah hari tersebut. Sungguh berbahaya jika butuh paspor dalam waktu dekat. Ingat juga untuk menyimpan screenshot dari nomor antrian kita untuk ditunjukkan ke Kanim nanti, atau lebih baik lagi di-print.

Dokumen yang dibutuhkan untuk perpanjang paspor:

1. e-KTP

2. Paspor Lama

*Semua berkas difotokopi di kertas ukuran A4

Sebenarnya udah itu aja, ditambah bukti udah ambil nomor antrian/slot bikin paspor via aplikasi/website ya. Tapi, for safety sake saya akhirnya bawa juga dokumen-dokumen lain yang sebenarnya dibutuhkan untuk membuat paspor baru:

3. KK

4. Akte Lahir/Buku Nikah/Ijazah (salah satu saja)

*Semua berkas difotokopi di kertas ukuran A4

Plus, karena saya KTP Depok (berbeda dengan lokasi Kanim), juga disarankan untuk membawa surat keterangan domisili atau surat keterangan kerja sesuai dengan kondisi dan alasan mengapa membuat paspor di Jakarta. Saya pribadi karena bekerja di Jakarta jadi saya membawa surat keterangan kerja dari kantor saya.

Oh iya, untuk tarifnya sebagai berikut:

- E-Paspor 48 halaman Rp 650.000,00

- Paspor Biasa 48 halaman Rp 350.000,00

Another protip, beberapa Kanim di Jakarta dan sekitarnya biasanya memiliki akun Instagram yang cukup informatif lho, jadi untuk make sure langkah-langkah dan dokumen yang dibutuhkan mungkin bisa juga cek di akun Instagram Kanim masing-masing. Untuk Kanim I Jaksel bisa cek akun Instagram @kanimjaksel ya. Thank me later :D

Dengan berbekal dokumen lengkap, saya pun melangkah pasti ke Kanim I Jakarta Selatan dengan menggunakan transportasi umum. Dari stasiun Depok naik KRL ke stasiun Duren Kalibata, lalu bisa disambung dengan ojek online sekitar 12-15ribuan. Tapi karena waktu itu hujan dan saya gagal terus mendapatkan ojek online, akhirnya saya naik bus TJ jalur 7B dari depan Kalibata City, turun di Duren Tiga, dan jalan kaki sekitar 5 menit sampai ke depan Kanim.

Kesan pertama: Sepi banget coy. Hahaha.

Ya maklum lah, waktu itu saya pergi ke Kanim sekitar awal bulan Maret, saat pandemi Covid-19 sudah mulai berhembus, jadi sepertinya tidak ada orang lain yang punya rencana pergi ke LN dalam waktu dekat. Saya pun sebenarnya sudah meng-cancel rencana liburan saya, tapi ya udahlah nggak ada salahnya perpanjang paspor ya kan.

Begitu masuk, saya langsung disuruh mengambil nomor antrian lagi oleh Pak Satpam dan masuk ke ruangan tempat pengecekan kelengkapan dokumen. Di situ dokumen saya dicek kelengkapannya dan dijadikan satu ke dalam sebuah map warna kuning (kalau tidak salah). Setelah itu, saya disuruh membawa dokumen itu untuk naik lift ke lantai tempat menunggu untuk diwawancara. Ajaibnya, begitu saya keluar lift dan melihat layar monitor tempat nomor antrian akan dipanggil, ternyata nomor antrian saya sudah terpajang di monitor tersebut hahaha jadi saya langsung masuk ke dalam ruangan wawancara, dan menuju ke meja wawancara yang ditentukan. Ada sekitar 10 meja wawancara kalau tidak salah, jadi maklum kalau cepet banget prosesnya (dan karena memang sepi juga sih).

Setelah ditanya-tanya sedikit, memasukkan data sidik jari, dan difoto, mba-mba interviewer memberikan saya selembar kertas yang berisi keterangan nomor pendaftaran dan informasi nomor rekening serta jumlah yang harus saya transfer. Kertas ini jangan sampai hilang ya, soalnya akan dipakai untuk pengambilan paspor kita nanti kalau sudah jadi.

Oh iya, di Kanim I Jaksel juga ada layanan WhatsApp untuk memantau apakah paspor kita sudah jadi atau belum sebagai berikut:

Selanjutnya, saya tinggal membayar sesuai dengan harga paspor yang saya ajukan di ATM/bank terdekat (di lantai bawah Kanim I Jaksel ada sederet ATM yang bisa kita gunakan). Kalau ingin bayar dengan menggunakan uang cash juga sepertinya bisa dilakukan di bank BRI yang ada di sebelah deretan ATM tersebut. Setelah itu, selesai sudah prosesnya. Tinggal menunggu sekitar 10 hari kerja, mengecek apakah paspor kita sudah jadi/belum via WhatsApp, dan kemudian datang kembali ke Kanim tersebut untuk mengambil paspor kita.

Semoga bermanfaat! walaupun saat ini belum bisa terbang kemana-mana