Pages

Thursday, July 22, 2021

Trying New Things (that so far did not Last Long)

During this 1.5 years of pandemic and quarantine season, I successfully spent money on some random (and cheap) things for my ... I don't know, pleasure? distraction from stress? happiness? or the effort to seek for new skills or hobbies? etc etc.

I don't think any of that succeeded except the books and oven (yes I did some simple baking forced by Mama cz oven was expensive so we can't let that be a waste).

I bought an oven (yes, new electric oven), some baking stuff, some random kitchen stuff from a milk froather for my (dalgona) coffee, kitchen wallpaper, dining table waterproof cover, even pegangan sendok nasi wkwkwk.

Besides, I also bought tons of books (nope, no new book this year yet due to wedding prep but last month I did preorder a new Dee's book for August arrival), got a complete painting set from my friend, bought a crocheting tools like that big needle(s) and yarn, bought a yoga mat (initially hoping) for a routine exercise, bought some random unofficial PC games (sorry not sorry), I did spent money on Candy Crush, Hay Day, and some other brain games tho hoping it can be a routine brain exercise lol. But. I just got bored. Very, VERY easily.

I actually did make two super simple paintings, joining my sister to do routine exercise sometimes, and even taught my sister how to make a simple flower crochet, also married a girl in Harvest Moon (be calm, this one is the original game, using my husband's steam account lol), but that's it. None of those hobbies keep myself fired up. I mean yeah I felt fired up in the beginning, but only for... what, 2-3 days, 1 month at best (for Harvest Moon).

Of course I understand consistency is key, but that's what I don't have in me, or not yet, I don't know.

But instead of giving up, I still try to look for another new activities hahah. Now I'm waiting for my ukulele to be arrived (to complete my sis' kalimba), and also start browsing kindle paperwhite hahaha (still tentative tho because apparently I need a new laptop cry).

Hope my husband can teach me how to brew coffee later on, and also hope I can find another new things to try! Or do you guys have any idea?

Friday, July 16, 2021

Memori

Buat gue, beberapa lagu atau bahkan melodinya saja, terkadang bisa memancing ingatan atau memori-memori yang sudah hampir gue lupakan. Saking lupanya, terkadang memorinya tetap tidak teringat jelas, tapi justru "rasa" yang dialami kala itu, datang lagi.

Tuesday, April 27, 2021

Tulisan Berantakan

Beberapa hari yang lalu, gue lamaran.

Sebelumnya memang nggak banyak yang tahu kecuali beberapa temen deket gue, bahkan temen deket pun nggak semuanya tahu. Gara-gara itu, ketika gue post foto lamaran gue di media sosial, hm gue langsung kena hujat dari berbagai pihak.

Gue kena hujat dari temen-temen gue yang sedih karena gue nggak bilang-bilang. Dari temen sekolah, temen kuliah, sampai bahkan temen kantor haha. Bukan menghujat yang gimana-gimana, cuma kayak kecewa aja pada nggak dikasih tau haha, sampe ada yang "Meuni tega kamu ya, kita kan ngobrol tiap hari" hiks maafkan diriku ya guys, tapi percayalah ketika kalian menghujat, sungguh gue terharu karena kalian ternyata peduli.

Iya, guys, jujur gue lagi susah banget percaya sama orang akhir-akhir ini. Udah dimulai sejak gue lulus kuliah dan masuk dunia kerja sih. Gue nggak merasa bisa berbagi cerita atau kisah hidup gue ke orang lain. Ibarat kata Facebook, gue udah nggak pernah add friend lagi, gitu. Udah cukup temen-temen gue ya temen-temen dari kehidupan sebelum gue bekerja.

Long story short, just recently gue kehilangan kepercayaan kepada temen lama gue yang gue kira adalah sahabat gue, tapi ternyata tindakan-tindakan dia seolah tidak memikirkan perasaan gue. "Seolah" loh ya ini, we never know what's in her heart.

Anyway gara-gara itu, gue semakin susah percaya sama orang lain. Even worse, sama kehidupan gue sendiri. Gue nggak mau mengumbar-umbar cerita hidup gue, gue nggak mau cerita-cerita gue mau lamaran atau mau nikah karena gue insecure takut gak jadi. Gue juga jadi nggak mau cerita sama orang lain karena gue takut malah menyakiti orang lain tersebut like it did to my friend. Berita yang gue kira bakal jadi berita baik malah nyakitin temen gue, men. Dan it hurts me seeing my friends are hurting because of me, tolong lah. Jadi gue milih untuk diem. Gue jadi gak make sense, I know, tapi gue udah bener-bener males dealing with people jadinya.

Tapi setelah lamaran, ketika adik gue mem-post acara lamaran gue di sosmed, gue tiba-tiba mendapatkan "hujatan" yang tadi gue bilang. Dan adik gue juga bilang, yang intinya ya temen-temen gue (yang beneran temen yah) justru lebih sedih kalo nggak tahu apa-apa sama sekali. Jadi ya udah, akhirnya gue share lah kabar lamaran gue tersebut.

Daaan balik ke yang tadi gue bilang di awal, alhamdulillah ternyata yang ngedoain banyak, yang ngehujat karena merasa sedih "kita kan temen lo kok lo ga kasih tau?" juga banyak, alhamdulillah, tandanya masih banyak yang peduli dan ngedoain dengan tulus.

Nyambung atau engga, tapi sedikit pesan moral adalah we may not be able to control feelings, either ours or others', but we can always control our actions and our kindness to others, right?
Jaka sembung naik ojek memang.

Gitu aja deh. Gue tau ini tulisan berantakan banget karena pas diketik pun sesungguhnya masih mixed feeling. Anyway doain semoga lancar yah hajatan gue haha. Bye!

Monday, March 29, 2021

Glamping di Highland

Haaaaaaaai jumpa lagi dengan gue yang alhamdulillah finally feeling refreshed karena akhirnya jalan-jalan setelah lebih dari setahun stuck at home :D

Kali ini gue mau cerita tentang pengalaman gue nginep di the Highland Resort Park Bogor. Resort yang terletak di kaki Gunung Salak, Bogor, ini mengusung tema glamping alias glamour camping. Jadi, berasa lagi nginep di tenda-tenda Apache atau Mongolia gitu, tapi dalemnya beuuuuuh kayak kamar hotel cyin.

Sebenarnya gue udah pernah ke tempat ini di tahun 2018 lalu dalam rangka outing kantor. Tapi at that time gue jadi panitia acara, jadi bener-bener kurang menikmati jalan-jalannya hahaha. Maka dari itulahh gue berjanji untuk mengajak mama dan adik gue kesini daaan alhamdulillah akhirnya kami bertiga kesampean untuk staycation di Highland Resort Park Bogor ini weekend kemarin.

Oh iya, on the side note, perlu diingat ini masih pandemi. Sehingga kita bertiga bener-bener mencoba untuk mematuhi protokol kesehatan standar kayak selalu pakai masker, rajin cuci tangan atau pakai hand sanitizer literally setiap saat. Bahkan kita bawa semprotan disinfektan buat nyemprot spot-spot tertentu atau barang-barang kita sendiri. Makan pun kita selalu minta room service. Bahkan untuk sarapan, kita mengikhlaskan untuk tidak menikmati buffet karena parno makan prasmanan bersama orang asing, jadi kita minta sarapannya dibawa ke kamar aja.

Pandemi ini juga lah yang menjadi alasan kenapa gue memilih staycation di Highland. Area Highland ini mostly outdoor, dan masing-masing kamar berada dalam camp sendiri-sendiri, tidak menjadi satu dalam sebuah bangunan seperti hotel pada umumnya. Daan asyiknya, di dalam area resort ini sendiri sudah cukup luas dan banyak aktivitas yang dapat dilakukan, jadi bener-bener staycation alias stay di dalem area Highland aja, tapi ya tetep bisa vacation karena banyak pemandangan yang bisa dilihat dan aktivitas yang bisa dilakukan. Rate-nya cukup mahal sih ya sekitar 1 jutaan untuk camp yang paling kecil yaitu camp tipe Apache, tapi menurut gue cukup worth dengan pemandangan dan pengalaman yang didapatkan.

Akses ke tempat ini cukup drama. Sebenarnya lokasinya tidak jauh dari pusat kota Bogor (sekitar 40-45 menitan lah), tapi sepertinya agak susah untuk mencapai tempat ini dengan transportasi umum, jadi better bawa kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi pun harus berhati-hati karena akses jalannya merupakan jalanan kecil, tikungan yang cukup tajam, dan menanjak.

Tapiiii drama perjalanan tersebut terbayaaaarr begitu memasuki area resort, karena kita langsung disuguhi pemandangan hijau dan Gunung Salak segede gambreng (apalagi kalau cerah). Sayangnya ketika gue tiba di lokasi, cuacanya mendung, sehingga Gunung Salaknya hanya kelihatan seperti siluet di bawah ini.

View Gunung Salak langsung dari lobby 

Sunday, March 28, 2021

Hi girl

Hi,

I don't know what are you looking for from here, but I just want to say:

You are strong, girl.

Please don't forget that your happiness is your own responsibility. Don't let other people take much power on us by giving them the responsibility to make you happy. It doesn't work that way.

And please.

Don't forget to love yourself more.


Cheers,

Fara ♡

Wednesday, March 24, 2021

Some people come to our life as blessings, while others come as life lessons.

I always thought of them as blessings in my life, until it turns out they only became a life lesson.

I should've known that we can't always expect people to be kind to us, or even have same way of thinking with us. Because no girl, the world is way bigger than that. I should take note on that and be careful next time.

Lesson learned.

Thursday, March 11, 2021

Are you ready for it?

Ujian orang mau nikah itu banyak.

Gue sering, pake banget, denger kata-kata itu. Dan gue remehkan haha karena gue dengan gampangnya mikir ya kalo udah cinta mah mau ujian kayak gimana juga pasti bisa dilalui.

Ternyata (ya betul sih, tapi) tidak semudah itu.

Iya, gue saat ini sedang mempersiapkan pernikahan. Pretty much alone karena calon gue jauh di luar negeri. Dan ternyata nyiapin nikahan itu bener-bener bikin gue capek, burn out, dan gue merasa sendirian. Ya padahal nggak sendirian juga sih sebenarnya karena gue dibantu mama dan adik gue.

Tapi perasaan burn out dan stress ini sendiri juga more or less disebabkan karena pandemi jadi gue nggak bisa nyari distraksi dengan jalan-jalan atau sekedar meet up sama temen-temen gue.
Intinya, gue stress.

Dan tiba-tibaaaaaaaa di titik capeknya gue, tiba-tiba si calon gue ini ngasih "surprise", negatively. Saking surprise-nya bener-bener bikin gue sampe mikir "Gila ya lo? Gue nyiapin nikahan sendirian di sini, elo malah kayak gitu?"

Gue tiba di titik gue bener-bener rapuh, gak bisa paham tujuan kejadian ini tuh apa, dan mode senggol bacok  (more to senggol ambyar).

Bahkan suatu hari, ketika ada temen gue yang bilang, "Bel, I know it's hard to prepare everything alone, semangat ya, yang kuat, jangan lupa makan."

Gue beneran yang ambyarrrr langsung nangis bombay saat itu juga.
Padahal itu temen gue nggak tau kalo gue lagi ada masalah. Dia cuma nyemangatin gue yang harus nyiapin nikahan tanpa keberadaan calon suami gueee tapi gue sampe se-terharu itu diucapin gitu hahaha.

Btw back to the "surprise" a.k.a the problem.
Major. Problem.
I can't go on further details on that, but after that problem was finally solved, we're pretty sure, it was our ujian sebelum menikah.

Kita berdua benar-benar merasa dibukakan matanya terhadap sisi buruk masing-masing. Kayak diuji, gini loh calon istri/suami lo, lo yakin lo siap nerima dia? Lo bisa nggak meng-handle atau menghadapi masing-masing dengan karakter mereka yang kayak gini?

Dan setelah berhasil dealing with each other, kita berdua kayak merasa dipersiapkan untuk menghadapi berbagai masalah secara bersama, sebagai suatu kesatuan. Karena setelah menikah nanti, semuanya akan kita hadapi bersama. Jadi, bisa nggak lo kerjasama sama orang ini buat menyelesaikan masalah yang kalian hadapi? Siap gak lo berdua mengendarai kendaraan ini, berdua, bukan sendiri-sendiri lagi.

Anyway, walaupun masalah yang terjadi tersebut sempet bikin gue dan dia nge-pause (bahkan sampe postponed the milestone of) persiapan nikah kita berdua, tapi alhamdulillah permasalahan tersebut saat ini malah bikin kita berdua tambah yakin dengan satu sama lain. Why? Karena gue dan dia merasa justru dengan adanya masalah tersebut, dan dengan terbukanya mata masing-masing, kita berdua tahu bahwa insyaAllah kita berdua semakin bisa memahami, menghadapi, dan yang paling penting, menerima karakter masing-masing, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Well, gue tau gue gak boleh jumawa dulu karena sebenarnya pernikahan is only the beginning. Tapi at least insyaAllah gue udah tau, seperti apa partner yang akan membersamai gue menghadapi berbagai tantangan yang ada di depan.

Like I said to him,
We will face those challenges in 2-Player mode, not single player mode anymore. 

Dan kalau kata calon suami gue, dia malah semakin thrilled untuk ngehadepin semuanya bareng-bareng. Doki-doki, ceunah. Maklumin aja ya calon suami gue emang 10% wibu 30% gamer. Hahahah ampun bwang.

Jadi, buat kalian semua para calon manteeeen, jangan kaget dan jangan heran jika tiba-tiba ada kejutan besar layaknya bom atom di antara hubungan kalian berdua. Karena hal itu sangat wajar dan sesungguhnya sangat berfaedah untuk kebaikan masing-masing. Bisa jadi bom tersebut memantapkan langkah kalian berdua, atau bisa jadi malah bom tersebut menunjukkan bahwa kalian memang tidak (atau belum) ditakdirkan bersama.

Wallahua'lam bisshawab guys.
Yang paling penting, jangan lupa juga untuk selalu berdoa pada-Nya yang Maha Membolak-Balik Hati.

So, baby let the games begin.
Are you ready for it?