Friday, August 21, 2020

Short Movie: Tilik

Belakangan ini di media sosial dan lapak LINE today, gue sering melihat berita tentang film pendek ini berseliweran. Film ini sebenarnya sudah ada dari sejak tahun 2018 dan sudah memenangkan beberapa penghargaan untuk kategori film pendek seperti Piala Maya 2018, Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018, dan Official Selection World Cinema Amsterdam 2019. Namun, film garapan Ravacana Films dan Dinas Kebudayaan DIY ini akhirnya menjadi viral di kalangan netijen setelah naik tayang di kanal Youtube Ravacana Films beberapa hari yang lalu.

Film berjudul Tilik ini diambil dari kata tilik yang berarti menjenguk. Sesuai judulnya, film ini bercerita tentang rombongan Ibu-Ibu yang hendak menjenguk Bu Lurah yang baru saja masuk RS. Uniknya, ibu-ibu ini pergi dengan menggunakan moda transportasi truk. Walaupun sudah jarang melihat pemandangan kayak gini, buat gue somehow ini relate banget karena memang di perkampungan sana biasanya rombongan ibu-ibu sering bepergian secara bersama-sama dengan menggunakan truk; ya pengajian lah, kondangan rame-rame lah, dan lain sebagainya.

Para Ibu-Ibu tumplek dalem satu truk

Nah, sepanjang perjalanan menuju RS, rombongan ibu-ibu ini sibuk berghibah dan bergunjing wae dipimpin sama ibu-ibu berjilbab hejo namanya Bu Tejo (lah kok rhyming hahaha). Alkisah mereka sibuk ngegunjingin salah satu perempuan yang ada di desa mereka, namanya Dian. Wuidih gosipnya asoy banget deh. Dengan bersumber dari Bu Tejo yang bersumber dari internet dan asumsi-asumsi dia sendiri, para ibu-ibu tampak khusyuk menyimak, bahkan ada yang kompor dan mengiya-iyakan semua kata-kata Bu Tejo. Sepanjang nonton rasanya gue pengen ikutan nimpalin, "Gunjing terooos Buuuk."

KZL banget kan

Di sisi lain, ada juga ibu-ibu bernama Yu Ning (jilbab cokelat, yang mukanya bete banget) yang selalu mencoba mengingatkan Bu Tejo agar jangan berasumsi aneh-aneh kalau belum jelas faktanya. Tapi Bu Tejo mah sabodo wae lanjut aja gosipin Dian terus menerus sepanjang jalan. Pokoknya sepanjang film kita bener-bener dibikin gemez deh sama si Ibu yang mulutnya LEMEZ banget ini. Lepas dari apakah berita yang dibawa oleh Bu Tejo tentang Dian ini benar atau salah, tetep aja kzl dan gmz banget liat si Ibu ngumbar aib orang lain seenak jidat.

Tapi guys, sesebel-sebelnya atau segemes-gemesnya sama Bu Tejo, sadar nggak sih kalau sebenarnya kita pasti pernah melihat sosok Bu Tejo dalam kehidupan sehari-hari, atau bahkan malah menjadi Bu Tejo itu sendiri. Serius deh, sebenarnya karakter Bu Tejo dan ibu-ibu di truk ini sebenarnya benar-benar relatable dengan kehidupan masyarakat alias NETIJEN jaman sekarang. Ada yang hobi bergunjing kayak Bu Tejo, ada yang hobinya ngomporin, ada yang berteguh pada pendirian kayak Yu Ning, atau yang diem-diem aja tapi menyimak kayak ibu-ibu yang lain. Balik lagi, lepas dari kebenaran beritanya, apakah bijak untuk nyebarin aib orang apalagi yang faktanya belun jelas?

Nah pertanyaan selanjutnya, termasuk golongan yang manakah kita dalam society, baik di dunia nyata maupun maya?

Meanwhile speaking of relatable, sepanjang film ini juga gue sebenarnya terkekeh sendiri. Ya gimana ya? Gara-gara film ini dikemas dengan settingan serombongan ibu-ibu yang ngobrol heboh pake bahasa Jawa, yaaa Allaaahhhh ngikik lah gue langsung teringat akan tante-tante dan saudara-saudara gue di Jawa yang emang kalo ngobrol hebohnya masya Allah hahaha. Dan fun fact, gue pun PERNAH LOH naik pick up sama sepupu-sepupu gue buat ngunjungin rumah salah satu saudara gue yang tinggal di atas bukit. Jadi memang culture rombongan ibu-ibu naik truk ini tidak mengadi-ngadi guys hahaha. Gak heran kalau kemudian produksi film ini juga disponsori oleh Dinas Kebudayaan DIY.

Sebagai intermezzo, adegan berikut ini juga sangat Indonesia:


Adegan di atas adalah adegan ketika rombongan ditilang oleh polisi. Pertanyaannya, kenapa yang ditilang lebih galak daripada yang menilang? Tapi gue lebih penasaran lagi kenapa ibu-bu di sebelah kiri malah selfie ya salaaaam hahahaha.

Ya sudahlah daripada review ini semakin ngelantur, hayu atuh kita tonton film pendek yang satu ini. Dan terakhir, ada rekomendasi film pendek lainnya?


*semua gambar pada tulisan ini diambil dari tangkapan layar video di kanal Youtube Ravacana.

Thursday, August 20, 2020

MBTI

Dalam enam bulan terakhir, ada tiga orang dari tiga circle pergaulan gue yang berbeda, tiba-tiba menanyakan tipe MBTI gue. Tau kan, MBTI?

MBTI (Myers-Briggs Type Indicator) adalah sebuah klasifikasi tipe kepribadian yang didasari oleh cara seseorang melihat, merasakan, dan bereaksi terhadap lingkungan sekitarnya. Tes ini memiliki 4 skala kecenderungan utama, dimana masing-masing skala tersebut terbagi menjadi 2 kutub sebagai berikut: 

E atau I; Extrovert atau Introver, memiliki beberapa definisi, tapi menurut gue pribadi definisi yang paling cocok adalah darimana seseorang dapat mengumpulkan energinya; apakah dari kekuatan-kekuatan di luar dirinya (ekstrovert), atau dari dalam dirinya sendiri (introvert). Kadang-kadang parameter ini juga suka diasosiasikan dengan apakah orang tersebut socially active atau socially inactive, tapi gue nggak terlalu setuju. Karena ada kok beberapa orang yang kalem dan pendiam tapi sebenarnya dia ekstrovert dan suka keramaian.

S atau N; Sensing atau Intuitive, adalah tentang bagaimana seseorang mendapatkan informasi.  Sensing berarti baru bisa menerima sebuah informasi dari sesuatu yang dapat dia rasakan/sense (lihat, dengar, etc.) secara langsung, sementara Intuitive lebih melihat segala sesuatunya secara garis besar dan dapat menarik hubungan dan kesimpulan dari garis besar tersebut. 

F atau T; Feeling atau Thinking, adalah tentang bagaimana seseorang membuat keputusan. Orang-orang dengan kepribadian Feeling cenderung memutuskan sesuatu didasari oleh emosi, perasaan, dan nilai-nilai yang dianut, sementara si Thinking biasanya lebih mengutamakan logika dalam memberikan keputusan.

P atau J; Perceiving atau Judging, adalah preferensi seseorang terhadap lingkungan di sekitarnya, apakah well-organized dan terstruktur (tipe Judging), atau fleksibel dan terbuka pada berbagai macam kemungkinan yang ada (tipe Perceiving).

Kombinasi dari skala-skala di atas, membagi indikator kepribadian MBTI menjadi 16 kombinasi kepribadian sebagai berikut:

humanmetrics.com

Ke-16 kombinasi ini tentu menghasilkan sifat yang berbeda-beda, dari segi kehidupan pribadi, pekerjaan, cara berkomunikasi dengan orang lain, cara berteman, bahkan cara membahagiakan diri sendiri, dan lain-lain. Buat kalian yang struggling atau punya masalah untuk mengenal diri sendiri, menurut gue tes ini cukup bisa menjadi langkah awal sih. Nggak sedikit juga orang yang jadi mengacu pada kepribadian mereka ketika memutuskan untuk memilih suatu karir.

Meskipun ya nggak bisa diambil mentah-mentah juga karena logically nggak mungkin semua orang di dunia ini cuma terkategori menjadi 16 macam kepribadian, kan? Pun keempat poin di atas tuh cuma kecenderungan aja, jadi orang yang F (feeling) bukan berarti nggak punya logika sama sekali, cuma sifat F nya lebih dominan aja makanya keluar hasilnya F. Selain itu, kesimpulan yang gue ambil dari mengobservasi diri gue sendiri (maaf narsis banget) adalah, ya kepribadian lo bisa banget ganti sesuai dengan lingkungan dan situasi lo saat itu. Jadi balik lagi, si MBTI ini cukup sebagai referensi aja.

Lebih detailnya bisa coba tes sendiri aja deh hahaha. Sebenarnya banyak website dan tempat tes MBTI, tapi yang cukup lengkap dan ilustrasinya gemes menurut gue adalah website 16personalities.com
Mangga dicoba guys.

In my case, ketika ditanya tipe MBTI gue lupa-lupa inget karena pas jaman kuliah aja sempet beda-beda, antara ESFP atau ENFP.  Tapi akhirnya awal tahun ini gue coba tes ulang di website di atas, dan surprisingly hasilnya beda lagi, yaitu INFP. Ya walaupun cuma versi introvert dari hasil tes gue sebelumnya sih. Kemudian beberapa bulan kemudian gue coba tes lagi dan hasilnya masih tetap INFP. Well, secara sejak sekitar 2 tahun yang lalu gue udah yakin banget sifat introvert gue lagi kenceng-kencengnya, maka gue menetapkan, OK gue INFP for now hahaha.

Nyebelinnya, temen-temen gue yang bertanya ini kekeuh banget kalo gue itu ekstrovert, jadi mereka lebih setuju kalo gue ENFP. Bingung kan? Gue yang tes kenapa mereka yang repot. Tapi usut punya usut, ternyata memang persentase sifat Introvert dan Ekstrovert gue kayak gini guys:

Say Hi to the Real Ambivert here!

Hahaha.

Tapi intinya ya itu tadi, MBTI ini bisa kita jadikan referensi atau bahan refleksi, tapi nggak perlu ditelen bulet-bulet atau malah dijadikan excuse buat kekurangan kita. Jangan ya, guys. Tujuan kita mengenali diri sendiri adalah agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, bukan buat nyari excuse.

Jadi, apa hasil tes MBTI mu? :)

Tuesday, August 18, 2020

Update: Membuat Paspor (2020)

Dulu saya sudah pernah menulis tentang cara membuat paspor di sini. Namun mengingat tulisan tersebut sudah 5 tahun yang lalu, sepertinya sudah banyak yang tidak relevan.

Maka dari itu, kali ini saya akan membahas tentang pengalaman saya membuat e-paspor di Kanim Kelas I Jakarta Selatan, Maret 2020 lalu. Kenapa kali ini saya membuat e-paspor? Karena, konon katanya sih e-paspor ini lebih secure dan lebih mudah mendapatkan VISA—bahkan free VISA buat ke Jepang! Berhubung paspor lama saya akan expired di akhir tahun ini, jadilah niatan saya untuk memperpanjang paspor tersebut akhirnya ditambah dengan sekalian meng-upgrade paspor saya menjadi e-paspor.

Sekedar informasi, tidak semua Kanim (Kantor Imigrasi) menyediakan layanan pembuatan e-paspor. Oleh karena itu, saya harus mengecek dulu daftar Kanim terdekat yang menyediakan layanan tersebut via googling. Berhubung rumah saya di Depok, ternyata Kanim terdekat dari rumah saya adalah Kanim I Jakarta Selatan yang terletak di bilangan Warung Buncit. Langsung lah saya memulai perencanaan.

Perbedaan cara membuat paspor terdahulu dengan yang sekarang adalah saat ini kita harus mengambil nomor antrian dengan menggunakan aplikasi yang bisa diunduh di Google Play Store. Di aplikasi tersebut, kita akan diminta untuk membuat akun dan mengisi data diri seperti nomor KTP, nama, dan lain-lain. Setelah selesai membuat akun, langsung lah kita bisa memilih slot hari dan jam berapa kita akan datang ke Kanim tujuan. Oh iya sekedar informasi, saat kita membuka aplikasi tersebut kita harus mengaktifkan location, dan pilihan Kanim yang tersedia adalah Kanim yang berada di dalam satu provinsi dengan lokasi kita saat itu. Contohnya, ketika saya membuka aplikasi tersebut di rumah saya (Depok), pilihan Kanim yang tersedia di aplikasi adalah Kanim yang berlokasi di Jawa Barat (Depok dan sekitarnya). Sehingga, saya harus membuka aplikasi tersebut di kantor (Jakarta) agar bisa memilih Kanim I Jakarta Selatan.

Anyway, setelah mendapatkan slot dan nomor antrian, pastikan kita datang di hari dan jam yang telah kita pilih. Jika kita gagal hadir, kita baru bisa mendaftar kembali 30 hari setelah hari tersebut. Sungguh berbahaya jika butuh paspor dalam waktu dekat. Ingat juga untuk menyimpan screenshot dari nomor antrian kita untuk ditunjukkan ke Kanim nanti, atau lebih baik lagi di-print.

Dokumen yang dibutuhkan untuk perpanjang paspor:

1. e-KTP

2. Paspor Lama

*Semua berkas difotokopi di kertas ukuran A4

Sebenarnya udah itu aja, ditambah bukti udah ambil nomor antrian/slot bikin paspor via aplikasi/website ya. Tapi, for safety sake saya akhirnya bawa juga dokumen-dokumen lain yang sebenarnya dibutuhkan untuk membuat paspor baru:

3. KK

4. Akte Lahir/Buku Nikah/Ijazah (salah satu saja)

*Semua berkas difotokopi di kertas ukuran A4

Plus, karena saya KTP Depok (berbeda dengan lokasi Kanim), juga disarankan untuk membawa surat keterangan domisili atau surat keterangan kerja sesuai dengan kondisi dan alasan mengapa membuat paspor di Jakarta. Saya pribadi karena bekerja di Jakarta jadi saya membawa surat keterangan kerja dari kantor saya.

Oh iya, untuk tarifnya sebagai berikut:

- E-Paspor 48 halaman Rp 650.000,00

- Paspor Biasa 48 halaman Rp 350.000,00

Another protip, beberapa Kanim di Jakarta dan sekitarnya biasanya memiliki akun Instagram yang cukup informatif lho, jadi untuk make sure langkah-langkah dan dokumen yang dibutuhkan mungkin bisa juga cek di akun Instagram Kanim masing-masing. Untuk Kanim I Jaksel bisa cek akun Instagram @kanimjaksel ya. Thank me later :D

Dengan berbekal dokumen lengkap, saya pun melangkah pasti ke Kanim I Jakarta Selatan dengan menggunakan transportasi umum. Dari stasiun Depok naik KRL ke stasiun Duren Kalibata, lalu bisa disambung dengan ojek online sekitar 12-15ribuan. Tapi karena waktu itu hujan dan saya gagal terus mendapatkan ojek online, akhirnya saya naik bus TJ jalur 7B dari depan Kalibata City, turun di Duren Tiga, dan jalan kaki sekitar 5 menit sampai ke depan Kanim.

Kesan pertama: Sepi banget coy. Hahaha.

Ya maklum lah, waktu itu saya pergi ke Kanim sekitar awal bulan Maret, saat pandemi Covid-19 sudah mulai berhembus, jadi sepertinya tidak ada orang lain yang punya rencana pergi ke LN dalam waktu dekat. Saya pun sebenarnya sudah meng-cancel rencana liburan saya, tapi ya udahlah nggak ada salahnya perpanjang paspor ya kan.

Begitu masuk, saya langsung disuruh mengambil nomor antrian lagi oleh Pak Satpam dan masuk ke ruangan tempat pengecekan kelengkapan dokumen. Di situ dokumen saya dicek kelengkapannya dan dijadikan satu ke dalam sebuah map warna kuning (kalau tidak salah). Setelah itu, saya disuruh membawa dokumen itu untuk naik lift ke lantai tempat menunggu untuk diwawancara. Ajaibnya, begitu saya keluar lift dan melihat layar monitor tempat nomor antrian akan dipanggil, ternyata nomor antrian saya sudah terpajang di monitor tersebut hahaha jadi saya langsung masuk ke dalam ruangan wawancara, dan menuju ke meja wawancara yang ditentukan. Ada sekitar 10 meja wawancara kalau tidak salah, jadi maklum kalau cepet banget prosesnya (dan karena memang sepi juga sih).

Setelah ditanya-tanya sedikit, memasukkan data sidik jari, dan difoto, mba-mba interviewer memberikan saya selembar kertas yang berisi keterangan nomor pendaftaran dan informasi nomor rekening serta jumlah yang harus saya transfer. Kertas ini jangan sampai hilang ya, soalnya akan dipakai untuk pengambilan paspor kita nanti kalau sudah jadi.

Oh iya, di Kanim I Jaksel juga ada layanan WhatsApp untuk memantau apakah paspor kita sudah jadi atau belum sebagai berikut:

Selanjutnya, saya tinggal membayar sesuai dengan harga paspor yang saya ajukan di ATM/bank terdekat (di lantai bawah Kanim I Jaksel ada sederet ATM yang bisa kita gunakan). Kalau ingin bayar dengan menggunakan uang cash juga sepertinya bisa dilakukan di bank BRI yang ada di sebelah deretan ATM tersebut. Setelah itu, selesai sudah prosesnya. Tinggal menunggu sekitar 10 hari kerja, mengecek apakah paspor kita sudah jadi/belum via WhatsApp, dan kemudian datang kembali ke Kanim tersebut untuk mengambil paspor kita.

Semoga bermanfaat! walaupun saat ini belum bisa terbang kemana-mana

Merdeka!

 Assalamu'alaikum warga!

17 Agustus tahun ini terasa sungguh berbeda karena masih dalam suasana pandemi covid-19. Baik upacara pengibaran bendera maupun riuh redam berbagai perlombaan, semuanya ditiadakan atau dilakukan dalam skala kecil dan/atau secara virtual. Walaupun begitu, pandemi tidak mengurangi doa dan harapan teruntuk tanah air kita yang telah merdeka selama 75 tahun lamanya.

Dirgahayu ke-75 Republik Indonesiaku.

Semoga damai dan sejahtera selalu, senantiasa dalam lindungan Allah SWT, dan rakyatnya lekas merdeka lahir batin.

Pendakian Gunung Fuji, 16-17 Agustus 2017

Friday, July 24, 2020

PTSD

Ketika gue menulis postingan ini, gue baru saja mengirimkan email permohonan cuti gue untuk minggu depan. Cuti sehari doang sih, dan tanpa alasan tertentu. Gue cuma butuh a day off di hari kerja buat menenangkan pikiran gue yang lagi kacau. Nggak menutup kemungkinan bahkan ketika cuti nanti gue bener-bener cuma rebahan santuy sambil binge-watch apa gitu kek. Tapi gue benar-benar butuh satu hari di hari kerja tanpa anxiety, atau cemas dan gelisah berlebih, yang menurut gue levelnya udah semakin parah dari hari ke hari.

Loh, elo kan WFH bel, kok masih butuh rebahan?
Hey, siapa sih yang bilang WFH ini kita jadi gabut? Bahkan ketika pak Presiden kita bilang, "Saya liat WFH ini kok malah kayak cuti?" waduuuuh emosi gue, walaupun pernyataan itu bukan ditujukan untuk gue. Ya gimana dong, secara gue selama WFH ini masih bekerja seperti biasa. Gue masih pusing tektokan sama customer, meeting-meeting internal dan eksternal, email dan telepon kesana kemari, dan lain sebagainya. Satu-satunya yang nggak bisa mungkin ya cuma meeting face to face aja. Tapi intinya, gue tetap kerja.

Anyway bukan itu yang mau gue ceritakan.

Entah bagaimana ini semua bermula, tapi seperti yang gue ceritakan di awal, tingkat kecemasan gue dari hari ke hari semakin lama semakin kacau. Lo tau ngga sih tipe orang yang gak bisa lepas dari medsos dan cemas kalo jauh dari gadget? Nah, itu gue terhadap medsos kantor (email, skype chat, ms. teams) dan gadget kantor (hp dan laptop) gue. Not that I'm addicted, though.
Gue takut.
Setakut itu.
Setiap hp kantor gue bergetar atau ada notifikasi di laptop gue, gue panik dan cemas sampai otot tangan gue tegang dan nggak jarang tiba-tiba gemeteran. Mata gue gak bisa lepas dari, at least, hp kantor gue. Even setelah jam kerja gue beres, jika hp kantor gue jauh, dan gue menemukan ada rentetan notifikasi di situ, gue akan panik dan satu hal yang terlintas kepala adalah, salah apalagi gue?
Dan kepanikan ini ditambah lagi dengan setiap kali gue melihat a particular name di layar gadget gue tersebut. That particular name yang menurut gue menjadi sebab musabab gue jadi traumatic begini.

Gue tau ini gak sehat, banget.
Dan gue capek kayak begini, jujur.
Makanya akhirnya gue memutuskan untuk menambah hari libur gue dan mematikan semua gadget kantor gue, dengan cara cuti di hari kerja.

Because sometimes we just need a day off.
Untuk sesekali menenangkan jiwa gue tanpa harus cemas dan gelisah berlebih cuma karena mendengar notifikasi di gadget kantor gue.
Untuk sesekali menenangkan pikiran gue yang semakin hari semakin negatif karena selalu dijejali tuduhan dan ketidakpercayaan yang ditujukan untuk gue.

Untuk sesekali tidak peduli.

Friday, June 26, 2020

Series: The Office (US version)

Kalau sebelumnya gue addicted sama Friends sampe bisa rewatch berkali-kali, kali ini kita beranjak ke series yang lagi relate-relate nya sama kehidupan gue saat ini. Series ini merupakan series favorit Billie Eilish (penting ga sih ini hahaha), yang tak lain dan tak bukan adalah, The Office! Btw gue nonton yang US version ya. Menurut junior gue yang namanya Luthfan, The Office ini aslinya muncul di UK terlebih dahulu sekitar 1-2 season saja. Kemudian diadaptasi di US, dan berlanjut sampai 9 season gan. Hahaha!

Poster dari Google

Ide sebenarnya adalah tentang kantor kecil bernama Dunder Mifflin cabang Scranton, yang merupakan sebuah kantor yang bergerak di bidang penjualan kertas. Karena ini cuma kantor cabang doang jadilah kantor ini dipimpin oleh seorang manager, Pak Michael Scott, yang akhirnya jadi icon series ini. Walaupun titelnya manager, OMG guys kalo lo nonton pasti lo bertanya-tanya njir kenapa orang kayak gini bisa jadi manager wkwkwk. Gue juga bingung coy, dan kayaknya itu sekantor juga bingung kenapa mereka bisa dapet pimpinan kayak gitu. Asli si Michael ini bener-bener ngaco, rasis, narsis bukan kepalang, the real definition of that annoying boss banget lah. Udah lah annoying, kita semua juga gak akan tau ini orang kompeten apa engga. Dan ironically si annoying boss ini kemudian kayak feeling lonely dan berusaha keras agar dicintai oleh para staff-staffnya, tapi ya... tetep aja...

Ditambah dengan cerita-cerita ala kehidupan perkantoran lainnya, kayak (not-so) persaingan antara Jim dan Dwight, cinloknya Jim dan Pam, meeting-meeting nggak penting, acara-acara kantor yang absurd, dan dibumbui dengan berbagai karakter para staff-staff lainnya yang beda-beda dan unique. Tapi somehow relatable sih karena dalam dunia kantor pasti ada aja kan yang annoying, yang aneh, yang ambisius, yang flirting mulu, yang usil, yang santuy, yang strict bingit, dan lain sebagainya. Lumayan lah kalo nontonnya pas lagi quarantine dan WFH gini biar jadi kangen suasana kantor. Hahaha.

Anyway, The Office ini dibungkus dalam bentuk dokumenter palsu gitu lah kira-kira, atau istilah kerennya mockumentary. Jadi kayak ada beberapa adegan wawancara beberapa pemeran-pemerannya gitu. Kalau lo pernah nonton Modern Family atau American Vandal juga formatnya kayak gini. Dan somehow The Office ini cukup legend juga sih menurut gue, secara banyak yang suka bikin meme pake adegan-adegan The Office, or even make The Office reference, kek misal meme berikut ini yang pretty much sum up my life:
Lol
(image source here)


Oh iya, kalo pas nonton lo merasa episode-episode awalnya rada garing, please bear with it karena emang menurut gue pas awal-awal nonton, ini series kayak "hmm kentang juga tontonan ini" saking absurdnya. Tapi gue pribadi makin lama makin "maklum" kok dan tanpa sadar tiba-tiba udah baper aja pas season 7, dan makin baper ketika mendekati episode terakhir di season 9. Sayangnya, konon katanya The Office ini udah nggak ada di Netflix sejak awal tahun ini. Jadi... happy hunting!

Tuesday, June 23, 2020

Movie: In Time

Ini film lama (2011) dan gue baru-baru ini rewatched. Film ini bercerita tentang waktu yang menggantikan keberadaan uang. Yep betoel judulnya In Time. Basi banget ngga nih ngebahas film ini? Ya udahlah ya.

(poster nyomot dari google)

So, seperti yang sudah dijelaskan di atas, ide film ini menurut gue keren dan filosofis parah. Ketika uang digantikan oleh waktu. Jadi di film ini, semua orang akan berhenti menua ketika berusia 25 tahun, dan akan diberikan "modal" 1 tahun saja. Mereka bisa nambah jatah waktu mereka ya dengan bekerja, while kalau mereka membeli sesuatu, ya waktu mereka akan berkurang. Pokoknya konsepnya sama kayak  uang deh. Tapi ekstrimnya, ketika waktu lo udah abis, ya udah... langsung mati saat itu juga. Sebaliknya, buat orang-orang kaya yang punya waktu buanyak, well mereka jadi immortal atau gak mati-mati.

Nah, film ini bercerita tentang seorang miskin yang tiba-tiba dapet rejeki nomplok berupa waktu yang super buanyak, tapi kemudian dia dikejar-kejar Timekeeper karena dianggap tidak pantas punya banyak waktu. Dalam pelariannya dia menyandera mbak-mbak kaya yang akhirnya selama pelarian mereka sama-sama sadar kalo ada sistem kapitalisme brutal di dunia mereka. Well selanjutnya tonton sendiri aja deh hahaha jujur menurut gue makin ke belakang jalan ceritanya kurang greget. Kek contohnya itu bapaknya si tokoh utama cuma disinggung-singgung doang neh ngga diceritain? Ngga jelas oi gantung.

Walau begitu, despite jalan ceritanya yang kemudian jadi B aja, gue suka sih sama ide ceritanya. Kenapa? Karena bisa buat kontemplasi aja gitu. Orang-orang miskin, terbiasa untuk in a hurry, ceunah. Karena benar-benar hidup day to day dan kudu seefisien mungkin dalam memanfaatkan waktu. Meanwhile orang kaya tuh santuy banget da karena they have like forever jadi buat apa buru-buru? Kalau kita reflect ke dunia nyata, well, kita nggak tahu yah kita punya waktu sampai kapan, jadi sebaiknya ya kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, right?

Yang kedua (yang pertamanya aja ngga ada), film ini juga kayak nunjukin tentang kapitalisme dan bahwa kesenjangan sosial itu nyata adanya, dan bahkan sengaja dibuat ada. Karena agar orang-orang kaya bisa hidup immortal, kudu ada orang-orang yang hidup dengan waktu terbatas. Kek gue tertampar gitu, entah ada sistem apa yang tidak kita sadari, tapi somehow kita bisa liat di sekitar kita kan, kalo yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Sad.

wadidaw banget ga?

Anyway daripada tersesat dalam review yang ngelantur kemana-mana, silahkeun langsung aja ditonton yah filmnya. Happy watching!